Selamat Datang

Jantung Warung Fiksi berdebar di Surabaya. Warung virtual yang sederhana ini dijaga oleh empat penulis: Brahmanto Anindito, Rie Yanti, Ihsan Maulana, dan Moch. Asrori. Di sinilah kami berbagi pengetahuan yang tidak seberapa seputar dunia menulis. Kalau kamu suka tulisan-tulisan di sini, dengan senang hati kami mengajakmu untuk mengunjungi blog kami yang lebih serius: WarungFiksi.net.

Kok namanya warung? Ya, kami ingin memberi kesan sederhana (mudah dipahami) dan tidak mahal (bahkan gratis) di sini. Bagaimanapun, tidak afdol rasanya kalau memakai istilah “warung” tapi tidak ada sesuatu yang dijual. Kami juga punya beberapa dagangan berupa buku 🙂

.

Kami menunggu karya-karyamu, kawans! Ayo, meriahkan industri kreatif di Indonesia dengan tulisan-tulisan segarmu. Sebagaimana jargon yang selalu kami yakini, “Berkarya atau mati!”

Oh ya, di laman ini, kamu boleh lho menyuarakan apapun yang berkaitan dengan dunia fiksi. Kamu bisa mempromosikan kegiatan, lomba, bahkan blog/situs/portalmu di sini, selama itu sejalan dengan Warung Fiksi. Come, say something… 🙂

69 thoughts on “Selamat Datang

  1. Dear maz-maz

    Just wanna ask : Saya hanya dan sempat terpikir, apa sumbangsih karya fiksi terhadap perubahan masyarakat (tentu saja ke arah yang lebih baik, ato revolusi)?

  2. Salam-salam bagi para Penjaga Warung…

    Blognya oke, seandainya aku bisa urun di dalamnya, pasti menyenangkan. Tapi tentang apa ya..! Soalnya aku belum pernah menekuni dunia fiksi ini sih.
    Bram, makasih ya berkunjung ke blogku. S’moga belum terlambat, “Met’ Lebaran ya, Minal Aidin wal Faidzin”

    Wassalam,

  3. Hai, Nurul. Sori baru jwb sekarang. Sejujurnya aku bingung, ini pertanyaan serius atau guyon. Soalnya kalau serius, berarti ini pertanyaan yg jwbnya hrs panjang nih, pdhl aku agak blank krn abis kena liburan Lebaran. Tp daripada kelamaan, hari ini aku coba jwb sebisaku. Lihat di sini ya. Thx.

    Wah-wah-wah, minal aidin wal faizin jg, Mas Alim! Blog gini dibilang oke? Yah, aku matur suwun aja lah (tanpa berusaha menyangkal atau membenarkan, hehehe). Yg jls, semua orang bisa kok urun tulisan di sini, apalagi sampeyan yg notabene salah satu guru penulisanku. Yo wis, kalau nganggur2, tulis dan kirimkan aja ke bhanto@yahoo.com. Tp hrs lillahi ta’ala lho, krn nggak ada honornya 😛

  4. Saya mau nanya, kalau mau ngirim tulisan ke media, kita tuh harus punya nama dulu nggak sih? Misalnya seorang dosen atau aktivis sebuah komunitas. Soalnya yang saya baca di media, penulis artikel atau karya sastra tuh pasti yang sudah punya pengalaman banyak. Nggak adil dong buat pemula. Mereka kan ngirim tulisan ke media buat cari nama juga.

  5. Terima kasih, Rie Yanti (Riyanti?). Biasanya sih yg dibaca ide dan kualitas tulisan. Nama (konon) nomor dua, tp kupikir pengaruhnya pasti besar. Soalnya media kan jualan. Kalau ada nama2 besar di dlmnya, gengsi mrk kan ikut terkatrol. Jd mrk nggak bisa disalahkan jg soal “pilih kasih” pemuatan ini. Strategi bg pemula biasanya: (1) Ide tulisan hrs bnr2 baru & berkualitas, (2) Adakan pendekatan personal ke redakturnya, (3) Kirim ke media2 kecil dulu (yg kadang nggak ada honornya), (4) Kombinasi dari ketiganya, dan (5) Banyak berdoa ^_^.

  6. Ok. tengkyu ya brahm. kalo saya nulis di situs ini boleh nggak? kalo nih. seandainya. kan musti mengawali dari media yang kecil2 dulu. saya butuh komentarnya. biasa sih saya nulis puisi atau cerpen. masih amatiran sih. trus dari strategi yang kamu kasih, saya mau nanya: pendekatan personal ke redaktur maksudnya musti kenal dulu? gimana caranya? apa musti rajin ngirim tulisan?
    satu lagi nih pertanyaannya. kenapa sih sekarang banyak banget novel-novel populer kaya teenlit atau chicklit? saya pernah baca salah satunya. bahasanya kok nggak begitu enak dibaca? nggak nyastra gitu? apa orang-orang pengen beken dengan menulis buku? makasih…

  7. Nulis apa dulu nih? Di Wufi cuma boleh nulis fiksi dan nonfiksi ttg fiksi lho. Silakan baca keterangannya di komentar terdahulu (laman ini jg).

    Rajin ngirim tulisan boleh jg. Pdkt personal sih tergantung karakter masing2. Bisa dari yg simpel kayak dtg ke kantornya, kenalan dan sok tanya2 tulisan gimana sih yg dia cari, minta koreksinya langsung kalau memungkinkan, sampai teror kecil2an spt yg pernah dilakukan temenku: Scr berkala dia krm email, minta dg sopan si redaktur utk baca cerpennya, sambil mengingatkan bahwa dulu karya2nya pernah dimuat di situ. Redakturnya kan risih jg, akhirnya dimuat lg deh, hehehe. Tp cerpen temenku bagus jg sih. Makanya, yg paling aku sarankan ya kualitas tulisan dan keterbaruan ide. Pdkt personal hanya buat mengalihkan perhatian redaktur ke karya kita. Selebihnya, konten yg bicara. Eh, Rie, sebetulnya masalah ini jg lg kutulis di majalahku. Termasuk solusi bg penulis mula. Tp nggak bisa kubeberkan di sini sekarang, krn itu sama aja aku nabuh genderang perang dg orang2 marketing & pimredku, hehehe.

    Stereotip chicklit/teenlit kan: Bhs gaul ala Jakarta, kosakata terbatas, miskin ungkapan (mungkin itu yg kamu maksud nggak nyastra), isinya seringan kapas, bercerita kemewahan dan/atau percintaan, logika cerita amburadul, ending gampang ketebak, tapi … laku! Buktinya Gramedia msh trs menggerojok pasar dg karya2 semacam ini. Sama kayak sinetron: Dicaci sana-sini, tp ditonton jg. Jd?

  8. Maaf, mungkin ini info gak bermutu ya, tapi gpp ya … begini kemaren saya nemu script gratisan buat website kayak friendster, namanya dolphin. ketoke bagus tuh untk buat komunitas ini. websitenya lupa seh … mungkin mas Brahm bisa menolong neh …

    Salam corat coret

  9. Iya, ternyata banyak kok situs yg menyediakan free script Dolphin buat diunduh. Aku baru cari (dan nemu) ya setelah dikasih tahu ini, thanks ya. Tp rasanya Wufi msh terlalu kecil untuk dibikinkan model semacam ini. Blm lg kalau tdk terawat krn ke(sok)sibukan para penjaga warungnya. Wah-wah-wah, eman. Tp kalau buat eksperimen2 pembelajaran aja sih nanti pasti kucoba.

  10. salam, saya lagi nulis ttg diri sendiri, judulnya Mengapa Aku Membaca Komik. kalau boleh buat ngeramein disini, tp gak tau cara sent atau upload-nya. apakah di bolehin? kalau mau dibaca edit dulu, kirimnya ke mana? trims

  11. Mas BONARI: Ojo guyon, wong panjenengan yg sastrawan hebat gitu kok. Keder2 barang, blm sarapan ya? Hehehe. Matur suwun sudah berkunjung, Mas.

    MIFKA: Aku jg senang kamu mau mampir 🙂 Thx ya.

  12. gimana caranya manampilkan cerita fiksi di blog ini sih??
    jenis karya fiksinya apa aja ya?? cerpen atau ap?
    saya belum punya blog jadi mohon di balas ke alamat email berikut ini

    tereima kasih

  13. Sebagian karya fiksi di Wufi bisa dijumpai di laman Unduh Gratis (cerpen & komik). Tp sebagian besar memang sengaja nggak kami online-kan krn alasan tertentu. Jd, koleksi total (baik karya kami sendiri maupun karya2 kontributor) ada di komputer offline kami. Gitu.

    Mau ikut terlibat? Kirim aja karyamu ke bhanto@yahoo.com. Kutunggu ya ….

  14. Hai Friends,
    Saya Hayato Kazami sang penulis novel Jepang baru. Saya baru prtama kali ngirim Novel Saya di salah satu penerbitan indonesia.setelah nunggu 3 bulan, Saya pingin mengoreksi atau merevisi novel saya itu. aku mau nanya, saat kita merevisi novel itu waktu novelnya sudah terbit pertama kali atau gimana, sih. bingung, nin.

  15. Hai, Kazami. Aku sih menyarankan tunggu (atau kalau sdh 3 bln tagih aja) dulu keputusan si penerbit: Akan diterbitkan atau ditolak. Kalau ternyata ditolak, bebas. Tapi kalau akan diterbitkan, sebaiknya revisinya nggak terlalu banyak, dan perubahan2nya apa aja harus dikomunikasikan ke editor penerbit. Eh, novel Jepang? Maksudnya cerita bersetting Jepang? Atau dlm bhs Jepang?

  16. Salam!

    Sudah lama saya mengintip Warung ini. Baru kali ini, saya mencoba untuk singgah agak lama di Warung Fiksi untuk melepas lelah, sepulang dari kerja. Pekerjaan saya sangat,sangat melelahkan. Saya berangkat kerja seusai Subuh dan baru pulang ketika Magrib. Selama saya bekerja, saya belum menemukan apa yang saya cari, yaitu uang, karena apa, karena pekerjaan saya adalah mencari pekerjaan. Hehehehe.(cerita ini ada di dalam buku kumpulan cerpen yang saya tulis).

    Saya mencoba tidak sekadar mampir di warung ini, karena setelah membaca beberapa comment dan FAQ tentang Warung Fiksi dari Mas Bhanto, saya jadi ingin add comment juga.

    Suasana Warung Fiksi membuat saya tidak merasa sedang singgah di warung, malah saya merasa seperti berada di Dixie Resto Jogja atau di Starbucks TP Surabaya. Suasananya sama seperti ketika saya memandang jalan raya di waktu senja dari salah satu meja yang berada dekat dengan kaca jendela. Biasanya, saya melakukannya sambil menyeruput kopi susu dan melahap Rolling Beff.

    Sajian Warung Fiksi belum ada di warung Pecel Madiun dekat UNAIR (masih ingat ga Mas Bhanto, dulu, kita sering makan disana?). Wah, saya jadi ingin ditraktir lagi oleh Mas Bhanto, makan soto di emperan Galaxi Mall seperti dulu. Kalau mau makan tempe penyet, pecel ala Madiun, atau tempe dan ikan Pe penyet seperti di Warung Ho Ha,warung di dekat jalan masuk ekstensi UNAIR , di sini memang bukan tempatnya. Ketika saya menikmati sajian Warung Fiksi, rasanya sama seperti ketika lidah saya sedang mencari-cari dimana letak enaknya makan Soupe à l’oignon gratinée atau Sukiyaki. Meski njelimet rasanya, tapi, lidah saya tidak bisa berdusta, lidah saya mengatakan enak. Resepnya apa donk?

    Setelah wareg singgah di Warung Fiksi, wawasan kuliner saya menjadi bertambah lagi. Setelah kaki saya melangkah keluar dari Warung Fiksi, tiba-tiba ada ide untuk menyurati Pak Bondan Winarno. Saya akan bercerita mengenai apa-apa yang telah saya lahap di Warung Fiksi. Bagaimana tanggapan Pak Bondan ketika mencicipi sajian Warung Fiksi nantinya. Mak Nyus, opo mmmm,….wuuuah…luar biasa…ini ni…bumbunya meresap di daging Ham-nya.

  17. Gi, ngomong ae nek awakmu kangen Sby, hahaha. Wah, saiki produktif nyerpen yo. Jare nyeriusi film, yo’opo iku? Jane nek awakmu sido ngedekno PH, asyik lho, gak kebayang potensi ke depane. Bangunen ae po’o kalem2. Eh, opo wis ono?

    Ngomong2, ulasan Tim Burton (sing ta’sebut nang email) iso mbok kover ta? Suwi2 aku tertarik ambek karya2ne wong itu lho, hahaha. Engko nek ono info2/arep diskusi, adewe rembugan liwat email opo SMS ae yo. Suwun yo komene.

  18. Masalah Tim Burton wes tak jawab nang e-mail-mu. PH? Hehehehe, itu pasti, Insya 4JJI sebentar lagi akan benar-benar berdiri. Ibarat bayi yang baru di tahap rambatan, arep melaku, tapi jek cekelan. Ya, masalahe aku wess duwe bojo dan anak. Do’a restu ne yo.

    O iyo, awakmu seneng karo sinema ekspresionisme Jerman ta? Hehehehe, aku duwe beberapa, kapan-kapan awakmu iso ndelok. Golek ae sek nang rental2 seng judule Cabinet of Dr Caligary(1919) arahan Robert Wiene.

    Atau ga karya sutradara besar Jerman lainnya, Friedrich Wilhelm Murnau, The Haunted Castle (1921), film horor Nosferatu (1922), Faust (1926).

    Alternatif liane karya Fritz Lang, Die Nibelungen (1923), Metropolis (1927).

    Nek ga,film Carl Boese dan Paul Wegner, The Golem (1921).

    Opo maneh yo?….Aku lali.

    Awakmu nek wes nonton film-film iku, isiiiiiiin banget nek kepengen cepet-cepet gawe film. Bayangno, adewe seng urip nang zaman saiki, iso ta gawe setting seng spektakuler koyok nang film-film seng tak sebutno mau. Misale, seng aku kagum, filme Fritz Lang seng judule Metropolis. Edan…edan tenan. Tapi, memang se jek luwe edan Charlie and the Chocolate Factory-ne Tim Burton. Burton memang konsisten dengan gaya ekspresionisme Jerman. Wong iku gendeng ketok e, hehehe. Iso gawe apik tenan.Tak pikir-pikir Gae opo aku gawe PH nek gak iso gawe karya seng apik koyok Tim Burton atau ide cemerlang The Rope-nya Hitchcock.

    Aku wes bayangno gawe ceritane wayang uwong nek digawe layar lebar dengan gaya ekspresionisme Jerman. Edan ga? Lahire Wisangeni digawe setting gaya ekspresionisme Jerman. Opo ceritane Laba-Laba Bumi digawe ekspresionisme Jerman pisan ae.

    Yo wes, sukses gawe awakmu dan konco-koncomu. Suroboyo never ending!

  19. Eh, sek ileng opo ora nek awakmu tahu dicelok,”Mbak!”, karo bakul soto emperan nang Galaxi Mall? Wuakakakakakak. Bakul soto ne piye iku nek ngerti awakmu wes dadi Ronaldo ga Ronaldinho maneh?….

    Iki guyon lho.

  20. Kata Mbak Nurul, “Saya hanya dan sempat terpikir, apa sumbangsih karya fiksi terhadap perubahan masyarakat (tentu saja ke arah yang lebih baik, ato revolusi?”.

    Mbak Nurul ketok e kudu nonton film iki, Metropolis(1927). Di tahun 1927,setting yang dibangun oleh Fritz Lang, di Metropolis, sudah bisa menggambarkan dunia di masa yang akan datang.

    Atau di era awal kelahiran sinema, era film bisu (1893-1902) film-nya Georges Melies, A Trip to the Moon(1902). Si pesulap ini mampu menggambarkan roket yang mendarat di bulan dan masuk ke mata “Man on the Moon”. Hal ini terjadi jauh sebelum NASA mengirimkan Neil Amstrong ke bulan (entah benar atau tidak misi ini?). Dalam film berdurasi 12 menit ini, Melies memperkenalkan ide,ilusi dan fantasinya untuk pergi ke bulan melalui media film. Pertanyaannya, apakah orang yg mengirim Neil Amstrong ke bulan itu punya ide ke bulan lantaran setelah menonton film-nya Melies? Atau NASA panas dengan roket buatan Rusia, seperti yang digambarkan film October Sky?….Saya juga ga tahu….. Paling tidak, orang-orang yang pernah menyaksikan film-nya Melies di tahun itu, pikirannya menjadi tergugah, betapa hebatnya manusia bisa sampai ke bulan. Setelah keluar dari gedung teater, ada yg menganggap Melies itu si pesulap gila, bikin film kok ya aneh-aneh. Mungkin ada juga yang pemikirannya menjadi terbuka dan percaya bahwa suatu saat nanti akan ada teknologi yang mampu mengantarkan manusia untuk pergi ke bulan, atau bahkan ada yang menjadi terobsesi, mencita-citakan dan berusaha untuk bisa terbang ke bulan dengan berbagai macam cara, barangkali.

    Yang jelas, fiksi (film) hanya merupakan media yang dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk menyampaikan sesuatu, bisa ide, pemikiran, solusi, kritik dan lain sebagainya. Apakah sebuah fiksi (film) yang berisi ide, pemikiran, solusi, kritik dan lain sebagainya bisa mempengaruhi perubahan masyarakat, ya tergantung kepada masyarakatnya sendiri, apakah fiksi hanya dianggap sambil lalu saja, dapat mempengaruhi pemikiran, tapi tidak sampai pada mempengaruhi tingkah laku, atau fiksi dapat merubah pemikiran dan tingkah laku masyarakat malah. Istilah-istilah akademisnya saya lupa, karena malas buka-buka buku Teori Komunikasi.

    Mbak Nurul sendiri gimana ya setelah menonton film G 30 S PKI arahan Teguh Karya, kalau ga salah? Film itu diputar setiap tanggal 30 September, setiap setahun sekali di zaman Orde Baru. Menurut Mba Nurul, bagaimana pengaruh film tersebut bagi bangsa Indonesia?

    Wah, aku baru ikutan nongkrong di sini, baru sekarang. Mungkin kalau aku sudah jadi pelanggan warung ini sejak 10 Oktober 2007, aku bisa ikutan diskusi yang seru sama Mbak Nurul juga.

    Maaf, kalau pendapatku tadi asal-asalan, yang penting ikutan ngomong aja di warung ini. Sebenarnya, aku mau tanya juga ke Mbak Nurul, seberapa besar pengaruh fiksi (film) terhadap diri Mbak Nurul?

  21. Nosferatu, Faust, Dr. Caligari wis suwi ndelok, wis jamane Stallion sik nyewakno installer2 bajakan biyen. Wis rodo lali sih, tp sa’elingku film2e asyik, pancen. Nek dipikir2 akeh lho film Eropa sebelum ’80-an sing kualitase lbh baik teko film jaman saiki. Heran aku, kok iso? Wong2 jaman biyen sing terlalu hebat, opo adewe sing menurun?

    Laba2 Bumi di-treat ekspresionisme Jerman, keren! Nek PH-mu bakal spesifik koyok ngono, menarik pisan. Tp ngelawan pasar maneh iku jenenge. Bojo ambek anakmu mangan opo engko? Eh, wis duwe anak, Gi? Selamat yo. Kpn yo aku iso dolan rono.

    Wah, bakul soto iku sik mbok eling2, Gi. Asem! Yo wis, ta’tunggu sinergine ambek Warung Fiksi. Jg, ta’tunggu tulisan2mu nang Warung Fiksi.

  22. Di zaman dulu, ruang-ruang(gaya) di dalam aspek sinema masih banyak yang belum tergali. Nah, seiring bergulirnya waktu, hampir semua ruang(gaya) aspek-aspek sinema telah dijamah oleh sutradara-sutradara zaman dahulu yang lebih dulu berkarya. Mungkin, sutradara-sutradara sekarang sulit menemukan lagi ruang(gaya) di dalam aspek sinema yang belum pernah digunakan sutradara pendahulunya. Tapi, ada kok yang berhasil menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema, misalnya The Wachowski Brothers. Laurence “Larry” Wachowski dan Andrew Paul “Andy” Wachowski telah berhasil menemukan sebuah ruang(gaya) aspek sinema untuk menggarap The Matrix. Tehnik-tehnik special effect yang digunakan di dalam The Matrix belum pernah ada yang menggunakan.

    Coba kita menengok kembali film The Matrix, di awal film,di scene sebuah kamar hotel. Seorang polisi gemuk berkata, “Hands behind your head! Now! Do it!”. Lalu, Trinity meletakkan tangannya di kepala pelan-pelan. Cut, beralih ke scene ketika agen Smith datang. Cut to back ke sebuah kamar hotel. Lalu, apa yang terjadi di kamar itu? Trinity menghabisi polisi yang menggerebeknya tadi. Yang keren dari adegan ini, ketika Trinity melompat dengan membentangkan tangan, dengan gaya kungfu (mirip jurus Bangau kaleeeee), adegan berhenti sejenak dan posisi kamera berputar 180 derajat, lalu, Trinity menendang polisi tadi. Tehnik dalam menghabisi polisi ini belum pernah ada di film-film sebelumnya. Atau yang paling terkenal, adegan ketika Neo menghindari peluru-peluru yang ditembakkan oleh musuh-musuhnya.

    The Matrix merupakan film yang membawa pengaruh besar, mempengaruhi gaya penggunaan special effect di film-film setelah The Matrix. Banyak sekali film-film action yang meniru gaya dan tehnik-tehnik special effect yang digunakan di dalam The Matrix.

    Selain itu, luar biasa sekali, bagaimana cemerlangnya The Wachowski Brothers memanfaatkan teknologi special effect dalam mencapai tujuannya. The Wachowski Brothers mampu meramu special effect dengan aspek filosofis dan teologis yang ingin disampaikannya melalui film The Matrix. Alhasil, memang sangat spektakuler.

    Sutradara India favoritmu juga sangat cemerlang menemukan ruang(gaya) di dalam aspek sinema lho. Coba diperhatikan, gaya pengambilan gambar Manoj Night Syamalan. Gayanya seperti orang yang sedang mengintip. Beberapa adegan diambil dengan sudut pandang, seolah-olah kamera melihat dari sudut pandang orang yang sedang mengintip. Cari aja di dalam film-filmnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan tema-tema yang diangkat oleh Syamalan. Yang jadi pertanyaan, apa kaitannya orang mengintip dengan tema-tema yang diangkat oleh Syamalan ya?

    Fernando Meirelles juga menemukan gaya lain dalam hal editing di film City of God dan Constant Gardener.

    Kualitas film-film di era sekarang ini tidak mengalami kemunduran atau hebat enggaknya sutradara-sutradara zaman sekarang, tapi, memang sangatlah tidak mudah di dalam menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema, karena Hitchcock, Orson Welles, Yasujiro Ozu, Kurosawa, Godard dan lain-lain telah menjamah ruang-ruang(gaya) di dalam aspek sinema lebih dulu. Hampir semua ruang(gaya) di dalam aspek sinema telah digunakan. Masalahnya, apakah kita sabar dan gigih untuk menemukan ruang(gaya) baru di dalam aspek sinema yang belum dijamah?

    Jangan-jangan malah merasa kelamaan, kapan bikin filmnya, kita butuh makan nih. Akibatnya, ya udah, yang penting bikin film aja.

  23. Gi, timbangane nulis nang kene lak mending langsung posting nang halaman utama Warung Fiksi se. Pasti engko iso luwih diapresiasi. Akhir2 iki nang kene jarang tulisan soal film pisan. Dadi? Ta’enteni yo.

  24. hai brahm…dah lama nih ga ngobrol…hehehe…
    cuma mau nanya aja. sebenernya kalau tulisan kita dimuat di web site kayak gini terjamin ga sih keamanannya? aku pengen banget mempublikasikan tulisanku di sini. tp khawatir juga kalo ada yg ngambil tulisanku seenaknya. diunduh trus diaku sbg karyanya.

  25. ^_^ Hai, Rie. Kemana aja nih? Wah, kalau mau nulis di internet rasanya nggak pernah aman deh dari pencomotan sana-sini. Msh untung kalau si pencomot menuliskan nama pengarang asli, kalau nggak? Yah, udh resiko lah. Tp jgn kuatir, pecundang nggak kreatif tp suka main klaim spt itu jumlahnya dikit kok. Dan pd akhirnya masyarakat internet bisa menilai sendiri siapa yg kreator sejati dan siapa yg cuma plagiator.

    Di internet ada sistem waktu, Rie. Jd kalau kamu publikasikan tulisanmu di Warung Fiksi, memori internet akan tercatat secara akurat tempat kamu menulis (https://warungfiksi.wordpress.com) dan tglnya. Aku nggak sedang bicara soal penanggalan tulisan di WordPress, krn itu bisa diubah2: Tulisan tgl 12 Desember 2007 bisa kita ganti 12 Januari 2008, atau bahkan 17 Agustus 1945! Aku bicara sistem waktu yg terarsipkan scr natural di internet. Jd kalau kita posting 1 Juni 2008 (dan tdk diubah2 lg tglnya sampai beberapa waktu), ya tercatatlah lokasi kamu meletakkan tulisan dan bahwa itu tulisan dari tgl 1 Juni 2008, plus bentuk halamannya. Jd setidaknya ada bukti otentik lah bhw itu tulisanmu (orang yg pertama menulis), bukan yag lain.

    Yah, kecuali kalau yg nakal ternyata pemilik situsnya sendiri. Soal ini, kamu hrs cari tahu dulu latar belakang si pemilik situs (yg kamu mau nulis di dlmnya). Siapa dia, bgm reputasinya, kompetensinya, sdh brp lama dia eksis, sedikit atau banyakkah yg merekomendasikan dia, dsb. Lalu pd akhirnya, feeling kitalah yg menentukan, nih situs layak dipercaya atau enggak.

    Ini jg berlaku utk tulisan fiksi. Aku banyak mendengar cerita2 “mengerikan” lho soal ini. Wis pokoknya saranku, jgn taruh karyamu di media, penerbit, situs, atau agen yg nggak jls reputasinya. Kecuali kalau kamu memang nggak sayang dg karya2mu sih.

    Hei, aku bukannya lagi nakut2i. Aku cuma nggak ingin korps penulis (korps-ku, korps kita) jd bulan2an pihak yg berniat merenggut keuntungan tanpa susah2 bekerja/berinvestasi. Gitu aja.

    Eh, ngomong2, jd nulis kan?

  26. AYO NULIS BARENG

    heheh salam buat smuanya!
    nulis itu asik lo ! bisa jadi obat streez! kalo pikiran kita lagi ruwet,cepetan deh ambil pulpen trus tulis d kertas apa yang jadi uneg2 kita! siapa tau dengan gitu masalah2 tsbt bisa jadi ide buat cerita2 yang akan kita buat!
    nih aku punya sekoni(sedikit) tips buat yang mo bgt nulis crita fiksi!
    jangan langsung menuliskan crita tanpa ada pondasi yang kuat! pondasi di sini maksudnya, A.L: penokohan. anggap aja dia itu nyata. ada/hadir dalam kehidupan kamu. ajak ngomong dia. tanyain segala hal tentang dia terutama apa yg dia inginkan! hingga ia ingin berjuang ntuk mendapatkannya. informasi2 sedikitpun akan akan membwat tokohmu jadi lebih hidup! sekian (singkat bgt sih!)

    kapan2 nyambung lagi deh!
    dari “fatal frame”

  27. aslm,,

    afwan kk,,

    mw tanya,,

    aku hoby bana nulis cerpen2,,slesai sh,,tp kalo kepikiran mw dilanjutin jd novel, kadang suka bosen ditengah jalan,trus ditinggalin gitu ajh dh,,tapi,kalol lg mw nerusin idenya udh ilang,,,

    yg aku mw tanyain,,gmn sh carana biar kita ga cpet bosen n ga cpet lupa atw plin-plan sm tujuan ending semula wktu kita mw buat karya-karya itu???

    syukron kk,,bwt bimbingannya..

    asLm,,

  28. Trims udah mau mampir, Asahy. Kayaknya perlu dicatet tuh ide2. Masukkan folder khusus “Ide”. Kalau lg bosen, ya ikuti aja keinginan, bikin karya baru yg lain. Nanti baru kalau pas nggak ada ide, baca2lah karya2 yg belum jadi atau folder “Ide”. Insya Allah tertarik lagi bwt melanjutkan. Tp pakai cara ini jangan mengharap bisa produktif. Yg jls, takkan ada ide yg tersia-siakan.

  29. syukron kk,,

    insyaAllah nti sahy coba,,faktor umur kali yyah,,hhee,,cpet bosenan,,

    mohon doa dn bimbinganna yyah kk,,

    tntg lomba yang bwt agustus itu,,sahy punya ide novel daerah,,tp masih kehidupan jaman skarang,,bahasa langsungnya (yg di dlam tanda petiknya) juga harus bahasa baku ya ka???

    syukron,,

  30. Sebenernya nggak ada aturan baku sih, Asahy. Tp utk lomba ini, terutama bahasa narasinya sebaiknya berbahasa Indonesia yg baik dan bnr. Yg dlm petik (kalimat ujaran) kamu sesuaikan aja ama konteks ceritamu. Kalau tokoh yg sdg bicara berkarakter anak jalanan, ya masa’ dia ngomongnya dg bhs baku kyk Pak Menteri?

  31. hee,,

    afwan kk,,,$$

    ohh cm narasiina ajjah to,,,

    iyah dh,,,syukron yyah kk bwt infona,,

    oiya,asahy ru tw ada situs ini baru seminggu lho ka,,hee,,mangna dsini ga bisa pake log in yyah ka??kan lbh seruuu,,,
    cm usul ko ka,,

  32. Dear Para Pecinta Fiksi, Sastra dan Kaum Kerabatnya.

    Setengah takut aku menulis ini, karena kutahu kemungkinan tulisanku hanya bikin penuh tempat ini.
    Setengah takut aku mendengar kata mereka tentang tulisan ini, karena kutahu tulisanku bukanlah angin dingin penyejuk hati yang gerah.
    Setengah takut aku menulis menunggu saat waktunya tiba susunan kata ini harus di eksekusi, tanpa ada yang mengingatnya akan keberadaan tulisan ini.
    Setengah takut aku menulis, diantara rajutan-rajutan mutiara kata ini harus terganjal oleh kerikil hitamku
    Setengah takut aku menulis kiranya engkau para pendekar pena bersedia menjenguk ruang kecil dirumahku yang kupersiapkan untukmu ?
    dengan nol koma sekian sisa keberanianku untuk mengutarakan kepadamu, sudikah engkau menuangkan air mengalir dikalbumu untuk sedikit menyegarkan tanah kering di plataran pondokku ?
    ———[[[[[[[[[[[[[[[–=:000:=–]]]]]]]]]]]]]]]]———–

    Mengundang Para Penulis Muda Untuk menuangkan Karya maupun idenya di posbisnis.com
    Telah tersedia topik sepesial : Cerpen, Fiksi,dan Sastra
    Terimakasih Buat Warung Fiksi,
    kerabat Jogja.
    abi.

  33. salam kenal pak brahm. lagi asik browsing, tiba2 nemu warung ini. asik juga isinya. mau nanya nih, kalo mau ikutan lomba dan ngirim naskah novel ke dkj itu, ada jaminan keamanan tulisan kita bakal ga dicuri ga ya? kalo di indonesia ada ga pendaftaran hak cipta tulisan, kaya lagu gitu? makasi sblmnya ya..

  34. Buat Abi, nggak papa kok. Hm, situsnya menarik jg. Salam buat kerabat di Jogja ya.

    Salam balik, Cetra. Yah, DKJ tentu nggak mau mempertaruhkan reputasi bsr mrk dg hal2 semacam itu. Emang pencurian mungkin sj terjadi, tp jgn terlalu khawatir lah. Positif aja.

    Di Indonesia kan ada Dirjen HKI yg emang ngurus salah satunya hak cipta. Kalau posisimu di luar Jakarta Raya, mending titipkan urusan ini ke konsultan terdaftar di kotamu. Biayanya sekitar 1 jutaan per karya, kalau nggak salah. Tp kalau mau diajukan ke penerbit, lbh baik nggak usah pake gituan. Selain mahal (urusan itu seharusnya dibayari penerbit setelah naskah kita disetujui), jg penerbit mungkin ilfil duluan lihat naskah yg sdh berhak cipta.

  35. apa itu sastra..??
    yg aqu tw cm nlis… nulis… nulis…
    n trakhir ga tw mw diapain tilisannya…
    pengennya bs terbit..
    tp ap pantes…???
    boleh tw gimn caranya bs nerbitin tulisan2.. specially tulisan2 caur dlm idub aq..
    yg cm bputar ditempatnya..
    tanpa aq rasain dunia tuw bneran bputar ato ga..
    mgkn bagi org lain iya.. tp ga bagi aq..
    bputar pd 1 poros..
    ato bputar hanya pd 1 titik jenuh..???
    kyk yg aq rasain sLama ini..

    n trakhir…
    dont know..

    just d o d o L…
    aka chemot…
    aka chela…

    n it was ME…

    kamsamhamnida….

  36. Halo semuanya para penghuni warung fiksi.
    Waahh…Blognya Ma-nyuss baget. he…hee…heee.
    Oya, saya mau nanya nih…gima sih caranya nembus ke penerbit?

    Oke…salam kenal.

    Wassalam.

  37. gimn cara ngirimnya mas..???

    smua tulisan2 qu terpencar-pencar…

    ga tw musti ngurutinnya lg…

    n yg pzti.. aq 1org yg nci rada gaptek ddunia fana inii..
    jd mci dlm bntuk lembaran2 kertas..

    hahaha

    btw…
    komawoo ahjussii…

  38. Thx, Zaldym & Cella. Nembus penerbit? Baca deh tulisan Mbak Windy (pimred GagasMedia) di sini. Setelah itu pelajari karakter penerbit2, unduh resumenya di Unduh Gratis.

    Via email, Cella. Wah, ya hrs udah mbentuk cerita lah, minimal cerpen. Kirim aja ke bhanto@yahoo.com. Dlm bentuk file, jd ya hrs diketik dulu ya. Trims.

  39. Permisi…Mas Brahm, aku mau nanya lagi… Kalo bikin e-book, karya2nya harus yang udah dipublikasikan di media lain ga? Terus, buat bikin e-book, musti ada berapa tulisan? Makasih…Monggo…

  40. Kalau memang udah dimuat, tolong dibubuhkan keterangannya. Tp kalau blm, ya nggak masalah. Nggak wajib. Justru e-book Wufi ini bisa jd batu loncatan (tambahan jam terbang/reputasi) bg pengirimnya.

    SAtu ebook sekitar 10 cerpen, Rie. Sebenernya itu nggak banyak. Cuma yg susah kan mengumpulkan 10 cerpen yg setema. Makasih … Yyukk ….

  41. tp jgn diketawain yaa oom…
    hehehehe

    nti aq cb kirim ke email nya yaa…

    tuz kci masukan yg bgs yaa..

    kci saran n kritikan jg boleh…

  42. Aku punya usul. Dapetnya pas mikirin soal e-book. Begini, gimana kalo wufi bikin semacam sayembara menulis cerpen. Temanya ditentuin. Lumayan kan buat bikin e-book daripada musti nunggu yg lain.

  43. Kami adalah murid murid smp… Memang , dibandingkan penulis penulis fiksi papan atas , kami gak sebanding dengan mereka . Sekarang , menurut kita sih ,

    untuk pelajaran SMP …
    pelajaran Bhs Indo menjadi lebih membosankan karena… Pelajaran kami selalu terus menerus membaca buku … arti arti sulit , ketentuan ketentuan bahasa , ejaan dsb.

    Kami 100% terpaku pada buku … Padahal anak seusia kami mungkin pantas berkereasi menulis kisah fiksi..
    Mengapa? Kami seneng banget kalau disuruh ngarang .. Misalkan aja kita disurunh ngarang , selalu yang berhubungan dengan ” TEMA GAK JELAS DARI GURU ” …

    Emang kita mo ngomong “Please deh bu …masak tiap tahun judul karangan kita BANJIR terusss” ? kan gak mungkin

    Oke disamping itu saat ada acara acara terakhir di sekolah … Plot naskah drama tidak boleh dibuat sendiri. Harus bertema apa , dan jika ceritanya ngawur akan dapat nilai kurang …

    Misalnya , kita pernah menulis kisah PeRaPian AJaib … itu saat sekelompok anak anak yang bla bla bla lalu menemukan bla bla bla… mereka terjebak dan bla bla bla , datanglah seorang Putri menunggang kuda bersama bla bla bla dan bilang kalau anak itu harus mencari bla bla bla untuk keluar …

    Terus Komentar guru kami “EH CERITA APA APAAN INI? NGARANG SIH NGARANG ,FIKSI TUH FIKSI, TAPI INI TUH CERITA BUAT ANAK TK!”

    padahal , kisah narnia yang plotnya hampir sama , lihat , berapa sukses film fiksi itu… Harry Potter , kisah fantasi memang biasanya Fiksi . orang menertawakan produk dalam negeri dan membanggakan Produk Luar negeri…

    Yahh … gitu aja dari kami… Guru hanya bisa menyuruh kami membuat Sinopsis , Mengagumi hasil karya Penulis penulis…

    Kami harap , suatu hari tuh Tulisan kamilah yang di sinopsis… tulisan kami yang di resensi… Tulisan kami lah yang dikagumi…

    Maka itu kami gak suka pikiran kami dibatasi …! Salam dari murid murid Jakarta Pnggemar Fiksi!

  44. Hai, Murid SMP di Jakarta. Trims atas curhatnya :P. Pelajaran bahasa membosankan? Setuju. Bahkan waktu aku seusia kalian, aku udah sekarat gara2 kebosanan. Tp selalu lihat sisi terangnya.

    Guru nyuruh ngarang ttg banjir? Enjoy aja. Keluarkan segenap kreativitas kalian utk membuat cerita spektakuler dari tema segaring itu. Hei, nggak boleh ada yg menghalangi ledakan imajinasi kita, apalagi cuma tema yg dibatasi. Kalian justru hrs berani mengatakan ke guru kalian, “Pak/Bu, kasih kami tema yg paling nggak menarik sedunia. Kami bakal membuatnya jd cerita yg hebat!!”

    Guru pelit pujian? Sukanya mencerca? Dibawa asyik aja. Jdkan itu tantangan utk membuatnya tercengang dan merinding bangga (kalau perlu sampai nangis terharu) dg cerita bikinan kalian, suatu hari.

    Kalau dia tetep sulit dipuaskan dan terus mengkritik (bahkan sampai kalian lulus), terima aja dg lapang dada. Kalau saran2nya yg pedes itu berguna, kalian jg kan yg beruntung dan mjd semakin sempurna. Sedangkan kalau sarannya nggak ada bagus2nya, nggak ada yg konstruktif, ya anggap saja angin lalu (kayak yg dulu sering kulakukan, hehehe).

    Oh ya, ini saran terbaikku. Aku sendiri dulu nggak melakukan ini, tp cobalah kalian melakukannya. Kalau kalian tidak puas dg penilaian guru, carilah penilaian orang lain. Mulai kirim cerita2 kalian ke media2. Pantang menyerah! Toh kalian masih muda, masih punya banyak waktu utk menyempurnakan karya2 itu.

    Btw, ejaan, aturan bahasa dan tetek bengeknya tetap perlu kalian pelajari. Itu utk mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan bahasa kita. Jgn dipandang sbg kekangan ya.

    Dan mengagumi karya2 penulis lain menurutku jg penting. Percaya deh, menghargai dan memuji orang lain bukan berarti menempatkan kita di bawahnya.

    Semoga kalian sukses di masa depan ya! Salam dari penjaga warung.

  45. Cuma mo nanya, kok di links ga ada nama Afifah Afra? Dia kan pengarang yang udah bikin banyak buku juga seperti Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Ada blog-nya, tapi saya lupa namanya. Gitu aja. Trims sebelumnya.

  46. Brahm, aku udah mengunduh mawar merah. Aku baru baca tulisanku aja. Hehehe. Emang semuanya nyambung ya? Agak aneh waktu kamu bilang itu nggak lagi berupa cerpen, tapi novel. Yo weis aku baca lagi nanti.

    Lupa mau nanya, graphic novel sama kayak komik ga sih? Merci…

  47. Menurutku, graphic novel itu termasuk salah satu jenis komik. Jd, komik adalah nama generiknya. Biasanya graphic novel ditujukan buat pembaca dewasa. Isinya cinta2an, action penuh kekerasan, kriminal, dsb. Krn buat orang dewasa, alurnya lbh kompleks dan berliku. Kyk novel gitu deh. Di CCCL (nggak tahu di Bandung namanya apa, CCF ya?), banyak graphic novel.

    Eh, msh kerasa cerpennya ya? Sebetulnya aku bimbang. Bisa sj aku poles sampai alurnya smooth spt novel. Tp kalau terlalu banyak mengubah cerita dan tokoh, takutku nanti pengarang2 aslinya pd ngamuk ke aku. Pakai demo di depan warung segala, nanti. Hehehe …

    Tp kalau kamu ada kritik, silakan lho, Rie. Emailku selalu terbuka buatmu. Cieeeh ….

  48. numpang promo ya….

    Lauching Pentalogi Sajak “Love talks to Love”

    Dengan restu kasih-sayang Tuhan tubuh/jiwa saya, setelah perantaian malam ke malam jahanam, akhirnya pentalogisajak “Love talks to Love” ini rampung saya kerjakan. Mengapa digagas dalam e-book komersial, dan hanya akan dipasarkan lewat dunia maya? Pentalogi ini merupakan jawaban atas suara-suara yang mulai dari sekedar bisik-bisik tak tentu arah angin, cibiran, sampai teriakan terang-terangan yang sempat, dan yang terus menggaungkan keterpinggiran sastra cyber sebagai sastra yang terbuang (red. tong sampah). Saya tidak terlalu memahami lekuk tubuh sejarahsastra cyber Indonesia dan dunia. Tetapi di padang ilalang inilah saya lahir, hidup, dibesarkan nafas dan berkarya.

    Ini semacam pembelaan atas si terdakwa oleh mereka yang merasa berhak menjadi hakim, jaksa penuntut, meski dimana bermula ketuk palu di meja hakim itu dan pihak siapa yang berhak memenjarakan pihak mana, tidaklah jelas dan logis bagi saya. Ini semacam sesi pembayaran utang anak kepada ibunya, yang telah mendisribusikan ruh Sang Mahasajak ke dalam diri saya, yang pasti tak akan pernah bisa terbayarkan, sampai kapanpun juga. Pentalogi ini terpecah menjadi lima mata rantai antologi.

    Satu, kakikakiangin, menguraikan tatal demi tatal cinta saya dengan seseorang, yang lebih banyak bertemu di dunia imajinasi saya, sampai dia pergi dari babak hidup saya. Dua, Stick Billiard n Vodka, mendedahkan perjalanan gejolak batin saya dan seorang abang sedarah sewaktu kuliah di Bandung, dengan kerling betina-betina malamnya, yang jalang-menawan-memabukkan. Tiga, Sampiran, memundak misi filsafat inti cinta secara universal, berdasarkan perenungan mesin otak batin saya, setidaknya hingga saat ini.

    Empat, Kupu-Kupu Bersayap Cinta, kepakan sayap cerita untuk mereka, para perempuan yang pernah singgah di kemarau jiwa saya. Lima, Sinopsis Musim Gugur, sapuan terakhir untuk babak hidup yang telah saya alami, setidaknya 26 tahun perjalanan lingkar tahun hidup ini, hendak tenggelam terus di pusaran silam, atau detik ini juga kembali merangkakkan kaki-kaki jarum jamnya. Secara keseluruhan, “Love talk to Love” ini, menggambarkan bagaimana memaknai cinta dari Sang Mahacinta yang ditiupkan dan dititipkan-Nya lewat ruh-ruh ciptaan-Nya, untuk lebih menghidupkan birahi hidup kita.

    Kelima sekuens ini adalah percikan-percikan nyala api hidup saya yang sempat saya rekam kerlip cahayanya, dan yang pasti, masih lebih banyak yang terlupa. Ada sekitar 540-an sajak, yang mungkin bisa lebih, bisa kurang karena penghitungan manual sekedip mata. Seseorang yang saya merasa hidup di dalam dirinya dalam berkarya, dengan keriangan hati, telah menawarkan diri untuk memberikan pengantarnya. Tapi, untuknya, bermilyar maaf saya pinta dan terimakasih yang setulus-tulusnya, karena tidak akan anda dapati petikan pengantar siapapun yang pernah anda kenal, baik itu nukilan basa-basi marketing, sangjung-puji klise, sebagaimana buku sajak umumnya, yang sudah ada.

    Tiap ruas buku, saya kerjakan sendiri, baik proses penulisan, edit, tata letak, hingga pengantar sesuai dengan misi ruh bukunya, selain untuk beberapa gambar sampul yang saya berutang kepada orang yang tidak saya kenal, meski saya sudah mencoba mencarinya. Saat ini dan satu saat, saya pasti mengucapkan terimakasih yang tak terhingga untuk itu semua. Ini adalah launching pertama buku saya, yang tidak akan anda dapati di manapun juga, yang bersifat dunia fisik (nyata). Di weblog saya adalah satu-satunya ruang yang bisa anda datangi untuk menyaksikan hirup-pikuknya kelima buku ini.

    Masing-masing saya hargai 15.ooo rupiah untuk tiap buku, atau bila pemesanan sekaligus kelimanya, anda hanya perlu mengocek 50.000 ribu dari kantong anda sebagai bonus, yang bisa anda pesan hanya lewat blog http://asharjunandar.wordpress.com atau alamat email blalang_kupukupu@yahoo.com atau satu-satunya nomor telepon 081382185125. Selambat-lambatnya, 2 hari dari pemberitahuan anda, buku itu sampai ke tangan e-mail Anda. Dengan penstransferan uang pembelian terlebih dulu ke nomor rekening bank Mandiri cab.Pulogadung: 1250007281553 a.n. ASHAR JUNANDAR NASUTION

    Untuk sekedar larak-lirik sajak, diskusi, kritik-saran, atau segalanya yang ingin anda tahu tentang pentalogisajak “Love talk to Love” silakan mampir di ruang Guest Book weblog saya, email atau langsung mendaratkan pesan ke nomor telepon genggam saya, dengan senang hati, saya puaskan birahi keingin-tahuan anda sampai titik orgasmenya. Sujud terimakasih saya yang tak terhingga untuk yang sangat layak dan sama sekali tidak layak dikecup oleh limau bibir terimakasih saya.

    Salam puisi.

    Ashar Junandar\blalang_kupukupu\Just Poets Your Life

  49. Iya, Jean-Marie Gustave Le Clézio. Tp aku nggak pernah tahu karya2 orang itu :P. Aku mau bahas Nobel (khususnya yg Sastra), tp udah ketinggalan, momennya nggak pas lg. Kamu nulis dong, Rie.

    Eh, tp nanti aja. Krn sebentar lg ada restrukturasi besar2an di Wufi. See you in Wufi 2.0.

  50. Nulis? Esai? Yg sukses cuma skripsi. Itu pun banyak yg musti direvisi… Tp ntar aku coba deh. Lg hunting data2nya dulu…
    Re-struk-tu-ri-sa-si (susah banget…) apaan nih?

  51. Ping-balik: Jomblo? Lagi cari jodoh? Rutin nge-blog aja, Bray! | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s