Iya Juga, Kenapa Nggak Coba Tokoh (Protagonis) Jaksa?

Kenapa Nggak Coba Tokoh (Protagonis) Jaksa?

Kamis, 16 Juli 2020 sore kemarin, ada diskusi daring bertajuk “Potret Jaksa dalam Sastra Milenial”. Acara ini dihelat di Zoom dalam rangka menyambut Hari Bhakti Adhyaksa 22 Juli. Moderatornya Yustine Kalangit, SH.MH (Kasi Datun Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat) dan hosnya Dr. M. Yusuf Putra, SH.MH (Kasi Pidsus Kejari Jakpus). Sedangkan narasumbernya:

  • Ashari Syam, SH.MH: Kasi Intelijen Kejari Jakpus
  • Aru Armando: Penulis novel Sang Pewarta (2019) dan Kertas Hitam (2020), peraih Scarlet Pen Awards 2020 kategori Best First Novel
  • Gue sendiri, novelis, sekaligus penggiat sastra fiksi kriminal

Banyak insight menarik di sini. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Profesi jaksa udah ada sejak era Majapahit, dengan sebutan Adhyaksa.
  2. Cerita fiksi kriminal subgenre legal thriller dengan tokoh jaksa belum pernah ditulis di Indonesia. Padahal, jaksa juga berjasa dalam penegakan hukum dan penyelamatan uang negara hingga triliunan rupiah.
  3. Jangankan cerita dengan tokoh jaksa atau legal thriller, genre kriminal aja masih sedikit. Satu-satunya yang pernah terbit di Indonesia di ingatan gue cuma novel dari Zara Zettira, Good Lawyer yang terbit 11 tahun lalu.
  4. Cerita legal thriller kebanyakan memakai tokoh pengacara. Lihat aja karya-karya John Grisham. Sedangkan si jaksa biasanya jadi tokoh antagonisnya.
  5. Selama ini, kinerja jaksa jarang disorot, kalah dengan Bareskrim (polisi). Media juga jarang meliput aktivitas jaksa. Kebanyakan media hanya sampai di pengungkapan kasus, di kepolisian, lalu meliput lagi kalau putusan sidang udah keluar. Padahal, banyak banget drama dan konflik setelah berkas perkara dari polisi dilimpahkan ke kejaksaan dan selama proses persidangan.
  6. Jaksa bukan hanya penuntut umum. Ada macam-macam jabatan di kejaksaan. Jaksa pun kadang datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) kejahatan, walaupun itu bukan tugas utamanya. Seperti dalam rekonstruksi John Kei baru-baru ini.
  7. Selain jaksa pidana kriminal umum dan korupsi (tipikor), yang paling seru adalah jaksa dalam kasus terorisme. Ada yang sampai mengenakan topeng pas persidangan, lo!
  8. Di kejaksaan, ada banyak sosok yang bisa dijadikan tokoh. Ada yang tipikal panutan dan veteran. Ada juga yang slenge’an, rebel, tapi genius saat mengawal kasus.
  9. Meski novel legal thriller jarang dibuat dan dibaca, banyak milenial yang menemukan sosok jaksa dalam drama Korea (drakor).
  10. Buat kamu yang mau menulis cerita jaksa dan kehidupannya, kejaksaan memiliki humas atau Pusat Penerangan (puspen) yang dapat membantu penulis meriset segala sesuatu tentang jaksa.

Sebetulnya, ada beberapa pertanyaan yang udah gue siapin, tapi nggak terjawab karena keterbatasan waktu di meeting virtual itu. Untungnya, gue punya nomornya Mas Yusuf Putra, jadi gue bisa lanjutin ngobrol dengan beliau. Berikut petikannya:

Bagaimana proses perjalanan kasus setelah penyerahan berkas dari polisi?
Penyidik terlebih dahulu menyampaikan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU). Setelah penyidikan itu selesai, ada beberapa tahap:

  1. Penyidik menyerahkan berkas perkara ke JPU. Bila dirasa belum lengkap, JPU akan memberi petunjuk melalui surat P.18 (pemberitahuan hasil penyelidikan belum lengkap) dan P.19 (pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi). Tapi jika diyakini sudah memenuhi syarat untuk disidangkan, JPU menyampaikan surat P.21 (pernyataan hasil penyidikan sudah lengkap) ke Penyidik.
  2. Penyidik menyerahkan Tersangka dan barang bukti ke JPU.
  3. JPU melimpahkan perkara ke Pengadilan.

Sekadar catatan, kalau masih dalam tahap penyelidikan, disebutnya kasus. Tapi kalau sudah masuk penyidikan dan persidangan, disebutnya perkara.

Siapa yang bertugas mengawal kasus sampai persidangan?
JPU. Karena JPU-lah yang berkewajiban membuktikan apakah terdakwa bersalah sesuai yang didakwakan.

Seperti apa drama atau kendala yang dialami kejaksaan?
Macam-macam. Jaksa diteror korban atau keluarga terdakwa, diintervensi atasan, berseteru dengan Penasihat Hukum (PH) di persidangan, dan lain-lain. Kendalanya, saksi mencabut keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), barang bukti tidak benar, saksi mangkir, dan sebagainya.

Saat masuk persidangan, ada berapa proses sampai putusan hakim?
Proses baku sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP): Pelimpahan Perkara, Pembacaan Surat Dakwaan oleh JPU, Pembacaan Eksepsi PH terdakwa, Pembacaan Tanggapan JPU, Putusan Sela Hakim, Pemeriksaan saksi-saksi, ahli, barang bukti dari JPU, dan PH Terdakwa, Pemeriksaan Terdakwa, Pembacaan Surat Tuntutan Pidana oleh JPU, Pembacaan Surat Pembelaan PH Terdakwa, Pembacaan Replik (jawaban Penggugat atas jawaban Tergugat) JPU, Pembacaan Duplik (jawaban Tergugat atas replik Penggugat) PH, dan Pembacaan Putusan Hakim.

Selain JPU dan Jaksa Penyidik, ada jaksa apa lagi, Mas?
Berdasarkan Pasal 30 UU no. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, selain sebagai Penuntut Umum dan Penyidik untuk perkara Tindak Pidana Khusus (Korupsi, TPPU, HAM Berat), jaksa juga bisa bertindak sebagai Jaksa Pengacara Negara, Jaksa Intelijen, Jaksa Eksekutor, Jaksa Penyelidik, dan Jaksa Ekstradisi.

Begitu dulu, Gaes. Semoga info ini bermanfaat, ya…


– Penulis: M. Fadli, Pendiri Komunitas Detectives ID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.