Kok, Blog Dianggap Musiman?

Kok, Blog Dianggap Musiman?
Beberapa kali, aku disindir, baik secara langsung maupun nggak langsung. Intinya, kok masih ngeblog, sih? Apa blog masih tren? Jadul banget! Sekarang, kan, zamannya video? Apa tradisi ngeblog masih musim?

Waduh, kok blog pakai musim-musimnya, sih?

Ini dugaanku aja, ya. Orang yang bilang blog udah nggak tren lagi itu mungkin setelah dia lihat statistik pengunjung blognya yang anjlok. Hehehe, bukan mengolok-olok. Trafik blogku sendiri juga, terus terang, turun dalam dua tahun belakangan ini.

Tapi, itu tentu nggak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan orang-orang udah pada meninggalkan platform blog. Trafik bisa anjlok karena beberapa faktor di luar itu, umpamanya:

  • Pembaca setia kita udah jarang berkunjung. Males mampir, males baca. Kenapa? Bisa jadi karena kualitas dan kuantitas konten blog kita memang menurun, atau mereka asyik main medsos. Nah, medsos ini, lo, yang tren-trenan. Bukan blog.
  • Penyebab lain, barangkali karena perubahan algoritma Google. Misalnya, dulu blog kita selalu nongol di urutan pertama ketika ada orang googling dengan kata kunci “mainan anak”. Setelah algoritma Google berubah, kita jadi urutan 30. Akibatnya, jarang ada yang ngeklik laman blog kita itu. Wajar bila pengunjungnya jadi sepi.
  • Atau, karena persaingan di Google makin banyak. Dulu, halaman hasil pencarian Google itu murni berisi cuplikan halaman-halaman web. Sekarang? Ada pemasang iklan atau AdWords, Google My Business yang ada map-nya itu, juga cuplikan video-video YouTube.

Tapi, blog kita sendiri masih ada, kan? Masih bisa diakses, dikunjungi orang. Itu artinya, blog nggak pernah benar-benar mati. Begitu pula trennya. Blog memang tren sepanjang masa. Kenapa?

1. Blog itu Web, dan Orang Selalu Butuh Web

Blog kependekan dari web + log. Jadi, blog itu sebenarnya web juga. Kita tahu, sampai kapan pun orang tetap butuh web, baik untuk kepentingan bisnis maupun sekadar narsis. Ini nggak memandang tren-trenan.

Bikin blog, kita bebas memilih domainnya, mengatur desainnya, tata letaknya. Mau kita letakkan foto di kanan atas atau kiri bawah, bebas. Facebook, Instagram, LinkedIn, atau medsos-medsos lainnya mana bisa kayak gitu?

Medsos itu ibarat kos-kosan. Semewah apapun, seramai apapun, itu bukan rumah kita sendiri. Sewaktu-waktu, kita bisa diusir dari sana.

Sementara blog, itu baru rumah kita. Apalagi kalau domain dan hostingnya beli. Nah, kalau blognya gratisan, ya anggap saja rumahnya ngontrak. Nggak papa. Toh rumah kontrak masih jauh lebih bebas dan leluasa dibanding kos-kosan.

2. Blog Fleksibel Menyesuaikan Tren

Alasan kedua kenapa blog itu tren sepanjang masa adalah, justru blog bisa menyesuaikan diri dengan tren. Kalau orang lagi suka dijelaskan lewat video, kita bisa memperbanyak konten audiovisual di blog kita. Tinggal atur tata letak dan galerinya.

Begitu juga kalau lagi orang lagi suka podcast, infografis, atau slide presentasi. Penulis novel kayak aku mau naruh novelku di blog, bab per bab, semacam di Wattpad gitu? Bisa! Gampang banget!

Atau mau tetap pakai format standar: artikel dikasih foto, ya terserah. Bebas aja!

Apapun itu, Google tetap akan mengindeks isi blog kita. Yang artinya, selama konten-konten blog kita bermutu, atau minimal bisa menjawab keingintahuan dari orang-orang yang searching, tetap akan ada yang berkunjung ke blog kita.

Nggak bakal ada cerita blog kita mati kayak Friendster, Multiply, Path, atau Google+. Blog kita bakal dapat terus diakses semua orang. Kecuali kalau kita lupa bayar domain dan hosting-nya.


Semua yang aku omongkan ini berdasarkan pengalamanku. Faktanya, sampai detik ini, aku dapat untung dari blog-blogku.

Aku mulai ngeblog sejak 2002, di Blogspot. Tapi mulai serius isi konten tahun 2007, di WordPress (ya, blog yang kamu baca ini). Sampai sekarang, kalau dihitung-hitung, udah belasan tahun aku jadi bloger.

Dapat ponsel dan laptop, pernah. Dapat honor berbentuk dolar, sering. Jelek-jelek begini aku pahlawan devisa juga, waktu itu.

Jalan-jalan ke Jerman pun pernah. Jadi, pesawat Indonesia-Jerman PP, transportasi darat selama di Jerman, wisata kapal, hotel (sekamar seorang), makan tiga kali sehari, semua dibayari. Enak, kan? Bloger!

Sampai hari ini, blog yang sama juga terus mengantarkan klien-klien jasa penulisan multimedia buat aku.

Sekalipun pengunjung menurun, jarang sekali ada yang berkomentar, atau kelihatan nggak mentereng, tapi yang terpenting blog tetap dapat menghasilkan dari masa ke masa. Itulah alasan kenapa kubilang blog adalah tren sepanjang masa. Makanya, aku terus blogging.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.