Cara Meminta Endorsement, Pujian, atau Testimoni

Cara Meminta Endorsement, Pujian, atau Testimoni

Awal tahun lalu, Warung Fiksi meminta pendapat novelis multitalenta, Sidik Nugroho, mengenai endorsement. Silakan klik dan baca bagi yang ingin tahu lengkapnya. Intinya, terserah aja, sih, mau memilih menerbitkan buku dengan endorsement atau nggak sama sekali.

Nah, khusus buat yang mau cari endorser, penting sekali untuk memahami cara dan etikanya. Seperti apa?

(1) Mintalah dengan Sopan ke Orang yang Tepat

Semua bermula dari proses mengumpulkan kontak dari calon endorser yang kamu incar. Jumlahnya tentu aja terserah kamu. Tapi disarankan yang relevan dengan isi bukumu. Bukumu tentang melukis, sebaiknya endorser-nya pelukis kondang. Bukumu bergenre thriller, sebaiknya endorser-nya novelis thriller yang lebih senior. Paham, ya?

Kontak itu idealnya berupa nomor ponsel atau alamat email. Alternatifnya, akun media sosial atau medsosnya dan manfaatkan fitur personal message (PM) di sana. Tapi yang ini ribet atau berisiko nggak nyampai. Di Twitter, misalnya, kita nggak bisa PM kalau orang itu belum follow kita. Di Facebook, PM kita juga akan masuk ke folder lain, kalau kita bukan friend-nya. Udah jadi friend pun nggak semua orang rajin mengecek PM.

Setelah kontak-kontak yang valid ketemu, tulislah surat permohonan. Intinya begini:

Pagi, Mas/Mbak [NAMA CALON ENDORSER],

Perkenalkan, saya [NAMA PENAMU] di [KOTA TINGGALMU]. Saya sedang menulis buku [JUDUL BUKUMU] yang akan diterbitkan oleh [NAMA PENERBITMU], dua bulan lagi kalau tidak ada aral. Saat ini, saya atas nama penerbit sedang mencari endorsement dari orang-orang berpengaruh seperti Mas/Mbak untuk kami pajang di bukunya.

Jika berkenan, saya akan merasa terhormat mengirimkan naskah buku tersebut untuk Mas/Mbak baca. Kalau Mas/Mbak suka, saya berharap sekali bisa mendapat 2-3 pendapat positif dari Mas/Mbak tentang isi buku ini. Saya bisa mengirim naskah itu dalam bentuk .PDF (e-book) atau cetak (print HVS), tinggal mana yang Mas/Mbak lebih nyaman membacanya.

Ini buku tentang [TEMA BUKUMU YANG SEKIRANYA BISA BIKIN CALON ENDORSER ANTUSIAS], saya pikir Mas/Mbak [NAMA CALON ENDORSER] akan senang membacanya.

Apakah Mas/Mbak [NAMA CALON ENDORSER] bersedia?

Kalau ya, mohon beri tahukan ke mana saya harus mengirim naskah buku atau e-book ini? Kalau tidak bersedia, jangan sungkan, saya sangat memahami kesibukan Mas/Mbak. Saya menghargai apapun jawaban dari Mas/Mbak [NAMA CALON ENDORSER].

Jadi, ditunggu jawabannya 🙂 Dan terima kasih banyak, sebelumnya.

Hormat saya,
[NAMA ASLIMU]

Setelah itu, tunggu jawaban darinya.

(2) Hargai Apapun Jawaban Calon Endorser

Yang butuh dapet endorsement itu penulis. Kamu! Calon endorser bisa dibilang nggak butuh. Malah kalau mau jujur, dia sebenarnya rugi meladeni permintaanmu. Minimal rugi waktu, karena harus menyempatkan diri berkomunikasi denganmu, membaca naskahmu, dan menulis pendapatnya (yang positif) tentang bukumu.

Karena itu, hargailah kalau calon endorser menolak. Jangan ngambek atau malah jadi hater-nya. Hargai pula kalau dia nggak menjawab surat permohonanmu. Move on aja, Bro, Sis! Cari calon endorser lain.

Pun, hargai kalau dia awalnya bilang “iya”, tapi kemudian membatalkan padahal naskah udah dikirim. Mungkin, dia ada masalah atau urusan mendadak yang menyebabkannya gagal memenuhi janjinya kepada kita. Jangan baper, maklumi aja. Yang penting niat kita baik dan kita udah sopan, kan.

Tapi, kita boleh menanyakan alasannya tiba-tiba membatalkan, siapa tahu itu karena kita atau karya kita sendiri. Misalnya, ternyata tulisanmu dianggap jelek, dia kecewa, sehingga nggak mau mempertaruhkan nama besarnya untuk memuji-muji karyamu itu. Woles aja. Nggak usah diambil hati. Justru jadikan itu cambuk untuk memperbaiki karya-karyamu berikutnya.

Nah, kalau si tokoh akhirnya benar-benar mengirimkan endorsement-nya, wah, selamat! Berikan penghargaan setinggi-tingginya kepadanya. Berterima kasihlah sedalam-dalamnya!

Bukannya malah mengomentari, “Kok kata-katanya kurang menggigit, sih, Mbak. Bisa nggak kalimatnya dibikin lebih menggigit dan menjual, kayak di novel-novel best seller?” Atau sekadar, “Lo, kok, cuma segini? Lebih panjang, bisa, Mas?” Atau sebaliknya, “Aduh, kepanjangan, Kak. Mohon diringkas jadi 1-2 kalimat, ya.”

Hei, meringkas atau mengedit itu urusanmu atau editormu nanti! Si tokoh ini udah buang-buang waktu, berjam-jam, mungkin berhari-hari, untuk karyamu. Jangan merepotkan dia lagi! Salah-salah, kamu membuatnya menyesal udah membantumu karena kamu segitu cerewetnya.

(3) Beri Naskah yang Terbaru dan Terbaik

Misalnya, ada draft I, draft II, dan draft III. Mana yang kamu berikan? Ya draft yang ketigalah! Kalau bisa, yang udah disunting oleh editor penerbitmu dan di-layout. Sehingga bukan cuma isi, tapi kemasannya pun udah dalam bentuk terbaiknya. Ini supaya calon endorser-mu juga dapat kesan yang terbaik dari karyamu.

Ini kayak orang kasih tester kue. Kamu kasih yang paling enak atau kue kemarin? Ya pasti yang paling enak dan masih segarlah! Jangan ada pemikiran, “Halah, dia dapet gratis aja… kasih yang gosong dan yang gagal-gagal kemarin! Daripada mubazir nggak ada yang makan.”

Hahaha, kamu niatnya apa, sih? Mau dia muntah di depanmu? Mau dia diam-diam menceritakan keburukan produkmu ke teman-temannya? Mau dia antipati dengan produk-produkmu ke depannya? Pikirlah jangka panjang, dan pikirlah yang bijak!

(4) Tanyakan Berapa Lama, dan Jangan Menagih-nagih

Asumsi dasarnya, calon endorser-mu itu sibuk. Nggak cuma ngurus naskahmu. Bahkan, di antara semua urusannya, barangkali bukumu urusan yang paling nggak penting (prioritas terakhir) buatnya. Ingat baik-baik asumsi dasar itu, supaya kata-katamu selalu sopan dan penuh penghargaan ketika berkomunikasi dengannya.

Jadi, ketika dia udah setuju, tanyakan baik-baik, “Kira-kira, berapa lama, Mas/Mbak bisa kirim endorsement-nya? Biar saya sampaikan juga ke editor saya.”

Kalau dia jawab seminggu, sampaikan ke editormu, “Sekitar 10 hari.” Jaga-jaga, kalau dia molor, biar ada waktu untuk mengingatkan. Tapi jangan mendesak calon endorser, “Wah, Mas/Mbak, seminggu lagi sudah naik cetak. Bisa lebih cepat?” Hadeeeeh….

Bayangkan betapa canggungnya kamu kalau tokoh itu sampai menjawab, “Maaf, nggak bisa. Jadi, silakan langsung dicetak saja sekarang.”

Ingat asumsi dasarnya? Bagus!

Lalu, setelah menjelang tenggat yang dijanjikan, misalnya pada hari ke-6, kamu boleh mengingatkannya. Ingat, mengingatkan, bukan menagih. Debt collector yang memang “berhak” menagih uang aja menjengkelkan, apalagi kamu yang nggak punya piutang apa-apa ke si tokoh.

Apapun alasan dia, tetap tersenyum (kalau lewat digital ya pakai smiley) dan iyakan.

Ingatkan lagi dengan janjinya kalau udah melampaui tenggat. Tetap sopan, ya.

Kasus terburuk, ternyata calon endorser “kabur tanpa kabar”. Itu sikap yang nggak profesional. Tapi saranku, ikhlaskan aja. Jangan malah diuber atau dimaki-maki. Itulah pentingnya meminta banyak calon endorser, juga siapkan cadangannya. Supaya, gugur satu, masih ada lainnya.

(5) Kirim Satu Eksemplar kepadanya, bila sudah Terbit

Biasanya, permintaan endorsement nggak melibatkan imbalan apa-apa. Jadi jangan khawatir untuk meminta endorsement ke tokoh-tokoh tertentu biarpun kamu lagi bokek. Tapi pahami bahwa dia nggak untung apa-apa dari sini.

Jangan merasa berjasa udah kasih dia bacaan? Nggak, kebanyakan tokoh punya bacaan sendiri. Yang ada, kamu malah memberinya tugas tambahan dan membuang-buang waktunya. Bisa dibilang, kamu berutang budi kepadanya.

Nah, utang budi ini mestinya dibayar dengan sesuatu. Yang paling umum, yaitu dengan buku itu sendiri kalau udah terbit. Gimana-gimana, dia ingin melihat namanya nongol di sana, kan? Selain itu, sebagai bukti juga bahwa kamu benar-benar penulis yang menerbitkan buku, bukan PHP.

Jadi, mintalah alamatnya. Beri tahu, “Kalau sudah terbit, saya atau penerbit saya akan kirim satu eksemplar ke Anda. Mohon izin.”

Siapa yang akan membayar eksemplar itu dan mengirimkannya? Kalau penerbitmu bonafid, merekalah yang akan mengirim. Atau minimal, penerbit akan mengirimkan semua eksemplar ke kamu, supaya kamu bisa mengirimkannya ke endorser-endorser-mu.

Ada langkah yang lebih efisien sebenarnya, yaitu mengirim e-book, meski nggak semua orang suka baca e-book. Tapi, ini adalah jalan tengah bila memang kamu dan penerbitmu nggak ada bujet.

Yang dimaksud e-book dalam bentuk terakhirnya, bukan e-book yang kamu buat sendiri dari Word. Jadi, kirimkan yang udah ada kovernya, desain layout-nya, juga barisan endorsement-nya (ini jangan sampai nggak ada, karena mungkin halaman inilah yang paling ingin dilihatnya). Pokoknya persis seperti bukumu yang lagi dijual.

Takut endorser-mu akan menyebarluaskan e-book itu? Waduh, seburuk itukah integritas tokoh yang kamu mintai endorsement? Terus, sejak awal, kenapa kamu memilih dia sebagai endorser, hayo?

Opsinya, ya, itu: buku fisik atau e-book. Masing-masing, ada konsekuensi dan risikonya.

Takut nggak bisa memastikan kalimat endorsement dia tampil di bukumu? Ini, sih, masalah komunikasi dengan editormu. Sejak awal mengusahakan endorser, diskusikan dengan editormu, “Saya mau minta endorsement ke orang ini, bagaimana? Cukup layak?”

Kalaupun terjadi kasus terburuk, bahwa editormu di menit-menit akhir ternyata “membuang” endorsement itu, terpaksa, minta maaflah kepadanya, sembari tetap mengirimkan bukumu sebagai tanda terima kasih udah bersusah payah membacanya.

Menurut pengalamanku, jarang sekali terjadi, sih, yang kayak gini kalau kita memang udah berkomunikasi dengan editor. Karena endorsement selalu bisa diselipkan di bagian manapun dalam buku (nggak harus di kover). Jadi, kasarannya, selalu ada tempat asalkan secara redaksional menarik dan diperkirakan mampu mengerek penjualan buku itu.


Nah, demikian cara dan etika mengajukan endorsement kepada tokoh tertentu atau orang yang lebih senior darimu. Semoga bermanfaat. Selamat berburu endorsement dan sukses untuk buku barumu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.