Sidik Nugroho: Endorsement Buku, Buat Apa?

Sidik Nugroho bicara Endorsement Buku

Sidik Nugroho (dokumen pribadi)

Suatu hari, aku membaca status Facebook dari salah satu guru penulisanku, Sidik Nugroho. Penulis fiksi-nonfiksi produktif yang juga guru sekolah ini membahas endorsement di buku. Dia dalam posisi kontra soal itu. Wah, menarik, nih! Ternyata, ada juga orang yang nggak silau oleh endorsement. Aku pun mengajukan wawancara untuk menggali sudut pandangnya.

Eh, omong-omong, udah pada paham apa itu endorsement dalam konteks penerbitan buku, kan?

Pasti kamu pernah tahu buku-buku, baik lokal maupun luar, yang di sampulnya dipajang komentar-komentar dari tokoh tertentu, pakar tertentu, atau pengarang lainnya. Biasanya, komentar itu isinya pujian terhadap isi buku. Nah, itulah endorsement. Gunanya, tentu aja buat menegaskan bahwa buku itu berkualitas dan sangat layak dibeli.

Begitu calon pembeli melihat, umpamanya, Stan Lee, Via Vallen, Evan Dimas, dan Iko Uwais aja kasih komentar positif tentang buku ini, pasti dia melihat ada sesuatu di buku ini. Pasti penasaran! Ujung-ujungnya, beli, deh! Tujuan penjualan pun tercapai.

Jangan Mendewa-dewakan Endorsement

Aku sendiri percaya akan kekuatan endorsement sebagai taktik marketing buku. Tapi, nggak 100%. Endorsement nggak sesakti itu, Bro, Sis, sehingga bukan hal wajib menurutku. Bahkan, ada bagian dari diriku yang merasa, “Kok ada yang aneh, ya?”

Anehnya gini. Ngapain harus ada pembaca lain yang mendikte-dikte, “Buku ini luar biasa, lo. Beli, gih!” Sementara kebutuhan dan selera baca kita, sangat boleh jadi, nggak sama dengan kebutuhan dan selera baca sang endorser.

Bukumu dipuji habis-habisan oleh Jokowi, apa aku auto-beli? Ya nggak semudah itu, Fergusso. Otakku, otak pembeli, langsung mikir, “Kebutuhan serta selera baca Pak Jokowi, kan, beda denganku. Beliau suka komik Doraemon dan Shinchan, aku suka Asterix. Masa aku harus beli buku ini berdasarkan rekomendasinya?”

Ada juga faktor-faktor lain. Untuk mengkaji ini lebih dalam, aku minta pendapat Cikgu Sidik Nugroho. Bagi yang belum kenal, keterlaluan banget silakan intip dulu profil singkatnya di pangkalan data Warung Fiksi.

“Sebuah buku mesti terbuka dengan pujian dan kritik,” tandasnya. “Apalagi sekarang, saat makin banyak orang jadi penulis. Sedangkan, endorsement cenderung mengarah ke pujian. Ditempelkannya endorsement, secara nggak langsung, membuat buku atau penulisnya udah ingin dianggap bagus duluan sebelum khalayak pembaca menilainya.”

Itulah kenapa semua buku penulis kelahiran 24 Oktober 1979 ini “bersih” dari endorsement, testimoni, atau puja-puji dari pembaca. Padahal, “Kalau aku mau, tiap buku yang kutulis sejak 2014 ditempeli berbagai endorsement, itu sangat mudah! Penulis-penulis yang bukunya pernah aku resensi tentu akan dengan senang hati menyumbangkan endorsement buat bukuku. Anggaplah itu sebagai balas budi.”

Sekadar informasi, pada kisaran 2009-2011, Jawa Pos dan beberapa koran lain sering memuat resensi Sidik terhadap buku-buku dari beberapa penulis kenamaan.

Endorsement, menurut penulis yang pernah diundang tampil di Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali, ini bukan sesuatu yang penting. Itu pula yang membuatnya nggak pernah memberikan endorsement terhadap buku-buku penulis lain. Jadi, buat kamu yang cari endorsement, jangan ke Cikgu Sidik, ya. Kemungkinan besar, bakal ditolak secara halus, hehehe.

Tapi, “Aku pernah dihubungi editor Penerbit Kompas. Beliau minta izin agar penggalan resensiku untuk kumpulan cerita pendek Agus Noor yang akan mereka terbitkan dicantumkan sebagai endorsement. Aku nggak keberatan. Karena endorsement itu merupakan cuplikan yang cukup mewakili keseluruhan resensiku,” kenangnya.

Cikgu Sidik buru-buru menyambung, bahwa dia bukan anti dengan endorsement, karena sejatinya itu bagian dari reaksi seorang pembaca atas buku yang dibacanya.

“Walaupun nggak ada endorsement yang kutempel di buku-bukuku, bukuku tetap bisa di-endorse pembaca lewat ulasan di media cetak atau daring. Bagiku, itu malah lebih jujur karena nggak melulu pujian. Mau memuji-muji atau mencaci-maki ya bebas aja,” ujarnya.

Hoaks Berbentuk Endorsement

Aku beberapa kali, lo, lihat ada tokoh yang memberi endorsement tanpa membaca isi bukunya, atau cuma baca sinopsisnya. Ajaib, ya? Dia mempertaruhkan nama baiknya demi buku yang dia sendiri belum tentu suka, karena belum dia baca. Kenapa dia belum baca? Bisa karena sibuk (dia tokoh, lo!) atau nggak punya tradisi baca buku.

Jadi memang, di benak sebagian pembaca, kredibilitas sebuah endorsement sudah digerogoti oleh bayangan akan ketidakjujuran dan rekayasa. Bolehlah aku bilang, ini berpotensi menjadi hoaks di bidang penerbitan. Karena bermacam alasan, endorsement bisa ditulis secara asal-asalan. Endorser asal kasih endorsement karena sungkan sama penerbit atau penulis. Penerbit biasanya udah nggak ngecek lagi endorsement yang masuk, paling-paling cuma ngedit untuk merapikannya.

Bisakah endorsement diberikan asal-asalan kayak gitu? Jelas bisa! “Jadi bayangkan, Mas Brahm jualan kripik kentang yang dibungkus plastik. Sebelum memasarkannya, Mas Brahm meminta pendapat beberapa orang tentang kripik itu. Kalau mau pendapat jujur, Mas Brahm harus membuka plastiknya dan mempersilakan mereka mencoba dulu. Sangat disayangkan, kan, kalau para endorser begitu mudah memuji-muji kripik itu padahal sama sekali nggak pernah mencicipinya?”

Akibatnya, nggak heran kalau suatu saat kita bisa melihat pujian yang berbusa-busa di sampul maupun halaman dalam sebuah buku. Tapi setelah kita baca, “Yah, ternyata begini doang?”

Bagaimanapun, Sidik mengaku nggak terganggu dengan endorsement yang berjejalan di buku. “Ada atau nggak, endorsement nggak terlalu berpengaruh buatku. Bahkan, aku termasuk orang yang kurang peduli dengan kata pengantar dari tokoh atau pakar. Yang justru kuanggap penting adalah kata pengantar dari editor atau penerbit, bahwa buku ini mengalami perubahan di susunan babnya, ada penambahan konten, dan sebagainya.”

Jadi, Endorsement Perlu atau Nggak?

Buku terbaru Sidik Nugroho yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris

Buku terbaru Sidik Nugroho yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris

Menurut Sidik, pembacalah yang perlu lebih cerdas dalam memilah dan memilih buku. Bukan ikut apa kata para endorser. Dari sisi penulis, endorsement nggak terlalu perlulah. Kalau kita udah mengupayakan yang terbaik buat isi buku kita, itu udah cukup.

Yang lucu, kata Sidik, “Aku pernah baca pernyataan, ‘Penulis yang nggak minta atau mencantumkan endorsement di bukunya adalah penulis yang sudah yakin bahwa karyanya sempurna.’ Aku kurang paham dengan pernyataan itu. Jadi kalau merasa kurang sempurna, harus ditempeli endorsement biar sempurna, gitu? Aku kepengin ketawa, tapi nanti dikira sombong. Jadi, senyum aja, ya.”

Hahaha….

Begitulah menurut Cikgu Sidik Nugroho. Lumayan mewakili pemikiranku. Hanya, menurutku, mengusahakan endorsement boleh-boleh aja. Kalau ada dan bisa diusahakan, silakan. Tapi kalau nggak ada, ya udah, biarin buku itu terbit “polosan”. Nggak papa. Daripada maksa-maksa orang untuk meng-endorse atau malah menciptakan hoaks.

Yang penting, kan, penulis tetap harus melakukan upaya-upaya untuk memasarkan bukunya. Cikgu Sidik aja menganggarkan dana untuk menyebar buku-bukunya yang baru terbit buat para bloger buku atau teman-temannya yang biasa meresensi. Tapi dia tidak pernah meminta para peresensi itu untuk memuji-muji bukunya. Dia selalu meminta mereka untuk berkomentar jujur.

Jadi endorsement versi penggemar kopi ini bukan berarti (harus) “pujian”, melainkan lebih ke “publikasi”. Dan letaknya bukan di bukunya, melainkan di blog pembaca, portal, GoodReads, media cetak, atau di mana aja.

Semoga catatan kecil ini bisa membuka mata bagi kamu yang suka heboh sendiri memaksakan diri mencari endorsement (“Biar kayak buku-buku penulis kondang,” katanya). Sementara buat yang selama ini minder karena buku-bukunya nggak ada hiasan endorsement-nya, mudah-mudahan penjabaran Cikgu Sidik ini bisa memberi semangat baru di tahun baru ini.

2 thoughts on “Sidik Nugroho: Endorsement Buku, Buat Apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.