Kemampuan Bekerja Sama dan Berimajinasi, Kunci Manusia Menguasai Dunia

Kemampuan Bekerja Sama dan Berimajinasi, Kunci Manusia Menguasai Dunia

Sebelum mengenal tulisan yang mengawali peradaban tingkat tinggi, manusia dan binatang itu kurang-lebih sederajat. Makan dari alam, berburu, dan saling mangsa. Siapa yang lebih kuat dan cerdik, dialah yang bertahan.

Pada akhirnya, manusia-manusia cerdas seperti Homo Neanderthal, Cro Magnon, atau kalau di Indonesia, Homo Wajakensis dan Homo Soloensis, punah sebelum sukses membangun peradaban yang megah.

Pertanyaannya, kenapa sekarang manusia-manusia macam kita bisa menguasai bumi? Padahal, menurut Jurnal Science (22 September 2017), manusia purba Neanderthal volume otaknya lebih besar sedikit dari manusia. Harusnya pemikiran mereka lebih hebat dari kita, dong!

Dibandingkan simpanse pun, beda DNA kita hanya kurang dari 3%. Beda tipis. Bahkan aku curiga, jangan-jangan, simpanse lebih cerdik dari kita. Kemampuan primata itu untuk beradaptasi dan bertahan di suatu lingkungan mungkin lebih baik dari kita.

Nggak percaya? Coba, deh, kamu dan seekor simpanse pergi ke pulau kosong. Kamu aja, ya, aku ogah… (hehehe). Di sana, katakanlah selama sebulan. Sama-sama nggak bawa makanan, nggak bawa apa-apa. Kira-kira, siapa yang lebih mampu bertahan?

Kemungkinan besar si simpanse!

Kita ini makhluk lemah, sebenarnya. Tapi, kok bisa-bisanya kita bertahan di bumi ini? Jadi “penguasa” yang bebas melakukan apa-apa, pula!

Menurut Yuval Noah Harari, seorang sejarawan Israel yang juga penulis buku Sapiens: A Brief Histroy of Humankind, itu karena manusia mampu bekerja sama dengan banyak manusia lainnya secara kompleks. Kemampuan kolaborasi ini yang khas manusia.

Lo, semut juga bisa bekerja sama, kok! Betul, tapi itu kolaborasi dalam bentuk sederhana. Sangat sederhana.

Simpanse mungkin bisa bekerja sama dengan kompleks bersama beberapa rekan grupnya. Tapi jumlah timnya sangat terbatas. Bandingkan dengan manusia yang mampu berkolaborasi dengan ribuan manusia lainnya, bahkan dengan grup lain yang nggak saling mengenal sekalipun.

Contohnya, lihat ponselmu saja. Itu, kan, garapannya ribuan buruh pabrik. Belum lagi puluhan tim kreatif yang merancangnya, tim marketing, para pegawai di toko daring tempat kamu membelinya, orang-orang bank yang mengurus lalu lintas transfer uangmu, sampai Pak Pos yang mengantarkannya ke rumahmu.

Apa kamu kenal sama orang-orang itu satu per satu? Nggak, kan? Tapi kenapa mereka bisa bekerja sama demi menyediakan ponsel buat kamu?

Itulah hebatnya manusia. Simpanse mustahil berkolaborasi sekompleks dan semasif itu, kecuali kalau referensimu film-film kayak Planet of the Apes. Hehehe….

Nah, soal film-film atau fiksi, itu sebenarnya juga keunggulan manusia dibanding binatang. Hewan paling cerdas sekalipun, seperti simpanse atau orangutan, nggak punya kemampuan untuk berimajinasi, Mas Bro, Mbak Sis.

Mereka hanya paham akan realitas yang berdasarkan fakta. Mereka cuma percaya dengan apa yang sanggup dideteksi oleh kelima indera mereka.

Sedangkan manusia, mereka mampu menciptakan realitas fiktif. Realitas yang nggak ada, tapi bisa saja terjadi. Contohnya, kita bisa membayangkan bagaimana bentuk dunia di masa depan. Kita bisa menceritakan dengan detail mengenai suasana perebutan kekuasaan di zaman Majapahit, padahal jelas-jelas nggak mengalaminya sendiri.

Daya khayal dan imajinasi adalah salah satu kualitas penting yang membuat jarak kita dengan binatang semakin jauh.

Coba beri simpanse pilihan, lima lembar uang 100.000 atau lima buah pisang. Mana yang kira-kira akan diambilnya?

Karena otak simpanse selalu bekerja berdasarkan realitas, jelas ia memilih pisang. Padahal dengan duit 500.000 itu, semestinya ia dapat memiliki pohon pisang yang isinya bertandan-tandan, alih-alih cuma lima buah pisang!

Simpanse mana peduli. Di matanya, uang itu fiktif. Sebuah narasi fiksi. Nggak ada gunanya. Nggak akan membuat perutnya kenyang.

Sebaliknya, manusia membangun peradaban yang maju melalui fictional reality ini. Seorang motivator bisa dibayar mahal (padahal cuma modal omongan yang nggak mengenyangkan), pengembang properti bisa menjual rumah miliaran hanya dengan modal brosur (sementara produknya sendiri belum dibangun alias masih berupa gambar-gambar imajinatif), manusia bisa terbang seperti burung, dan seterusnya.

Suka atau nggak, imajinasi dan fiksi adalah hal-hal yang mengawali kemajuan dunia. Hewan nggak punya itu. Selain kurang bisa bekerja sama dengan sesamanya, mereka juga terlalu terpaku pada realitas faktual dan miskin imajinasi. Jadi, jangan khawatir, rasanya sampai kiamat pun mereka nggak akan bisa mengudeta kita sebagai penguasa planet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.