Beginilah Gambaran Risiko Jadi Penulis, Siap?

Alkisah, seseorang ingin jadi penulis. Dia pun memulai dari media daring, seperti media sosial (Facebook, Twitter, Google+, Instagram, dll.), blog (WordPress, Blogspot, Tumblr, dll.), platform storytelling (WattPad, Storial, dll.). Sesekali, dia juga mencoba mengirim tulisan ke media cetak.

Beginilah Gambaran Risiko Jadi Penulis, Siap?

Sudah resmi jadi penulis dan punya pembaca setia, dia ingin menerbitkan buku sendiri. Terutama buku fisik yang distribusinya secara luring. Dia pun menggunakan jasa penerbit indie. “Yang penting terbit dululah! Biar namaku tercatat dulu di pangkalan data ISBN,” pikirnya.

Sudah menerbitkan buku fisik sendiri, dia ingin lebih berkembang. Penerbitan berikutnya, dia mau lewat penerbit mayor, biar jumlah cetaknya bisa lebih banyak. Dia pun mengajukan naskah andalannya ke penerbit besar. Menerima surat penolakan, memperbarui naskahnya, lalu kirim lagi. Begitu terus. Sampai akhirnya, ada juga penerbit mayor yang bersedia menerbitkan karyanya.

Sudah terbit via penerbit mayor, dia bangga. Tapi bulan berganti, tahun berlalu, penghasilan royaltinya nggak kunjung bikin senyumnya melengkung. Dia memutuskan karya selanjutnya harus jadi best seller. Apapun tips untuk menjadikan bukunya best seller dia pelajari dan praktikkan.

Dulu, teman-teman yang nggak tahu malu suka dinasihati, “Jangan minta buku gratisan dari penulis. Kamu pikir, untung penulis itu berapa?” Lama-lama, teman-teman kurang ajar seperti itu dihardiknya tanpa basa-basi. Atau dicuekin. Dia memilih fokus pada karya.

Akibatnya, karya ketiganya benar-benar best seller. Tercapai cita-citanya? Tunggu dulu, masih ada yang kurang. Dari laporan royalti, dia baru merasakan, ada yang selama ini mencuri uangnya secara legal: pajak. Profesionalisme kepenulisannya seperti nggak dihargai.

Dia pun protes ke Dinas Pajak, agar pajak royalti buku jangan sekonyol 15%. “Hei, menulis buku itu pekerjaan berat, bukan pekerjaan pasif! Bukan ongkang-ongkang di depan laptop terus jadi buku! Belum lagi masa promosinya yang cukup menyita waktu dan tenaga, bahkan uang!” argumennya berapi-api.

Kondisi ternyata nggak membaik. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke jalur indie dan media sosial. Tentu aja, penghasilannya jauh berkurang. Dia tetep gigih. Meskipun dia sadar, ketika nanti penghasilan dari jalur alternatif ini udah mulai besar, petugas pajak pasti akan menemukan cara pula untuk memajakinya lagi.

Beginilah balada penulis buku. Deritanya tiada berakhir. Masih mau menulis buku? Hanya #WriterOfSteel alias penulis berfisik dan mental baja yang akan menjawab “ya”. Karena seorang writer of steel akan selalu mencari alternatif solusi bagi setiap masalah kepenulisannya. Kamukah itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s