Kutipan-kutipan di Novel Tiga Sandera Terakhir

Ini nih karya terbaruku. Tiga Sandera Terakhir, Sob! Di antara novel-novelku yang lain, inilah novel yang penggarapannya paling lama dan serius. Tentang apa sih Tiga Sandera Terakhir ini? Yang udah tahu pasti lancar jawabnya. Militer, thriller, aksi, laga, sejarah. Novel yang mengambil latar Papua, di era sekarang. Buat yang belum tahu, yaaaa… kenalan dulu, dong! Lewat beberapa quotes-nya boleh juga.

Tiga Sandera Terakhir di kafe. Foto oleh Luckty.

Foto oleh Luckty

Petikan dari Narator

  • Melihat pertunjukan sadis yang baru saja ditampilkan, siapapun tahu, hanya dibutuhkan sepotong ucapan keliru untuk memantik sebuah pembantaian.
  • Meskipun sama-sama orang Papua dan lokasi tinggalnya tak terlalu jauh, bahasa Nduga dan Amungme sudah berbeda jauh kosakatanya. Menyebabkan antarsuku pun sulit berkomunikasi. Sungguh, terasa benar manfaat bahasa Indonesia yang dideklarasikan pada 1928 dalam peristiwa Sumpah Pemuda itu. Meskipun faktanya, perwakilan Papua tidak ada di forum pemuda tersebut.

Petikan dari Kolonel Larung Nusa

  • (Berbicara kepada Mayjen Deddy Lestaluhu) “Kalau upaya-upaya ini ternyata melempem, Pak, harap dicatat, para penyandera itu sebenarnya bukanlah tandingan Kopassus.”
  • (Berbicara kepada Serda Baridu) “Kita sudah punya nama ‘Indonesia’, alih-alih Hindia Belanda sejak 1918. Kita sudah punya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ sejak 1928. Sudah punya bendera nasional Sang Saka Merah-Putih sejak 1938. Apakah saat itu sudah ada Negara Indonesia, Sersan? Tidak. Kita baru punya negara setelah 1945!”
  • (Berbicara kepada Pendeta Johan Castilla) “Bila kami disuruh membunuh, kami bunuh. Disuruh menangkap, kami tangkap. Begitu pula bila disuruh diam meski diludahi dan dikencingi musuh, kami akan diam! Dalam militer, akan dianggap tindak kriminal bila kami tidak mematuhi perintah atasan, sekalipun perintah itu berlawanan dengan nurani kami.”

Petikan dari Tafiaro Wenda

  • (Berbicara kepada Kolonel Larung Nusa) “Saya pernah melakukan segalanya untuk Ibu Pertiwi. Tapi, lihat saya sekarang, Bapak. Tersingkir. Terbuang!”
  • (Berbicara kepada Witir Femmilio) “HEI, GONDRONG! Jangan makan gaji buta, kau ini. Nanti saja matinya! Sekarang, bantu kami, he….”
Tiga Sandera Terakhir di perpustakaan. Foto oleh Luckty.

Foto oleh Luckty

Petikan dari Nona Gwijangge

  • “OPM sekarang berjuang lewat diplomasi. Yang tak ada akses ke politik atau ke orang berkuasa di luar negeri, berjuangnya lewat internet. Mereka rajin membangun opini publik. Tentang ketidakadilan yang diterima rakyat Papua. Tentang Papua yang masih melarat, jauh di bawah standar hidup Jawa.”
  • “Target kita adalah pasukan sempalan OPM. Mereka sadis. Dengar berita penyanderaan kemarin itu? Nah, mereka ini pelakunya. Dan masih bebas di luar sana. Bahkan mereka sudah bikin mampus dua tentara, salah satunya Anam Mardianto. Kalau Kakak merasa terpanggil, kalau masih ada itu jiwa korsa, hubungi nomor itu.”
  • “Tindakan ini, Bapak-bapak, bukan tentang OPM. Bukan tentang kemerdekaan negara Papua Barat. Ini tujuannya lebih besar dari itu.”

Petikan dari Kresna Sonar

  • (Berbicara kepada Nona Gwijangge) “Saya pernah membunuh babi hutan seberat 100 kg dengan kujang ini, Neng. Kira-kira, kulit dan daging Eneng lebih tebal dari babi hutan, tidak, ya?”
  • “Kita sewaktu-waktu bisa terbunuh dalam pertempuran ini. Tapi sebelum kita mati, mari kita buat sebanyak mungkin lawan mati duluan.”

Petikan dari Witir Femmilio

    • (Berbicara kepada Nona Gwijangge) “Tipu-tipunya TNI? Mungkin saja. Tapi mungkin juga, itu justru propaganda OPM yang berbuat seakan-akan TNI melakukan tipu-tipu di media.”
    • (Berbicara kepada Tafiaro Wenda) “Gendheng! Mereka punya RPG? Sejak kapan, hah?”
    • “Mereka benar-benar seperti nyamuk. Tidak peduli seberapa banyak yang sudah kita bunuh, kawan-kawannya terus saja berdatangan.”
Tiga Sandera Terakhir di SAM. Foto oleh Iyyafi.

Foto oleh Iyyafi

Petikan dari Thomas Enkaeri

  • “Kalau kami minta ubi, harus dapat ubi. Jangan minta ubi, dikasih ketela. Beginilah akibatnya! – Salam, Enkaeri Harga Mati”
  • (Berbicara kepada Sertu Anam Mardianto) “Kau tahu apa yang saya benci dari Polisi dan TNI? Semuanya.”
  • (Berbicara kepada Kolonel Larung Nusa) “Kita bertarung tangan kosong. Kalau menang, Tuan bisa pulang. Kalau kalah, mayat Tuan akan kami awetkan sebagai mumi di sini. Dalam tradisi kami, hanya orang-orang istimewa yang mayatnya dimumikan. Jadi, menang atau kalah, Tuan tidak akan rugi. Bagaimana?”

Petikan dari Mikael

  • (Berbicara kepada Ambo Rawallangi) “Kau dan semua orang Indonesia itu tutup mata! Selalu tutup mata! Coba saja kalau Pepera itu diadakan lagi tahun ini. Coba saja kalau Indonesia punya nyali mengadakan referendum buat Papua! Pasti 90% lebih orang Papua pilih merdeka! Tidak ada orang yang waras yang menolak punya negara sendiri!”
  • (Berbicara kepada Ambo Rawallangi) “Harusnya kami orang Papua kaya-kaya. Kalian orang-orang Indonesia yang mengeruk kekayaan kami. Tipu kami. Bikin kami sengsara seperti ini.”

Petikan dari Ambo Rawallangi

  • (Berbicara kepada Mikael) “Kami ini hanya turis. Kami kemari justru untuk menambah pendapatan bagi Papua, Pak Mikael. Tapi lihat, kami malah disandera.”
  • (Berbicara kepada Akilas) “Salah kami apa? Kami ini tidak tahu apa-apa soal Enkaeri, Pak Akilas. Bahkan Enkaeri itu nama laki-laki atau perempuan saja saya tidak tahu!”
  • (Berbicara kepada Mikael) “Krimea, wilayah di Ukraina, melakukan referendum. Hasilnya apa? Mereka malah memilih bergabung dengan Rusia kembali. Gabung ke negara besar, Rusia, untuk maju bersama. Skotlandia juga menyelenggarakan referendum pada tahun 2014. Pilihannya berdiri sendiri sebagai negara atau tetap di bawah Inggris Raya. Rakyat Skotlandia ternyata memilih tetap bergabung dengan Inggris Raya! Sekali-sekali keluar rumah dong, Pak. Biar tahu perkembangan dunia.”

Petikan dari Pendeta Johan Castilla

  • (Berbicara kepada Kolonel Larung Nusa) “Dari kacamata saya, Indonesia seperti seseorang yang semasa remajanya sering dibuli. Akibatnya, ia menjadi pembuli ketika dewasa. Rantai dibuli dan membuli ini harusnya diputus, Komandan!”
  • (Berbicara kepada Kolonel Larung Nusa) “Mereka ingin Indonesia mengakui kemerdekaan Papua Barat. Itu satu-satunya jalan untuk membebaskan sandera hidup-hidup. Saya yakin, Jakarta takkan mau meluluskan permintaan ini. NKRI harga mati di sini, merdeka harga mati di sana. Ah!”
Tiga Sandera Terakhir di SMAN 2 Metro Palembang. Foto oleh Luckty.

Foto oleh Luckty

Nah, dari kutipan-kutipan di atas, kebayang dong kayak gimana novel Tiga Sandera Terakhir itu. Kalau tertarik–dan semoga kamu tertarik–sila lanjut ke microsite-nya. Atau, lebih bagus lagi kalau kamu lanjut ke toko buku atau toko online langgananmu dan langsung membeli bukunya 🙂 Selamat membaca!

Iklan

One thought on “Kutipan-kutipan di Novel Tiga Sandera Terakhir

  1. Ping-balik: Tokoh Anak di Kartun yang Mendunia, Kok Nggak Berayah-Ibu? | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s