4 Cara Gampang Meriset Cerita (Studi Kasus: Novel Militer)

Meriset novel militer

Meriset novel militer

Sejak jadi wartawan, aku selalu diwanti-wanti atasanku, riset itu penting! Soalnya, aku pernah curhat ke beliau, “Bos, yang nulis piringan hitam jangan aku dong. Aku nggak ngerti apa-apa soal itu. Penikmat aja bukan.”

Jawaban redakturku simpel, “Nggak masalah kamu nggak tahu. Tugasmu, tugas wartawan, adalah mencari tahu! Biar tulisanmu nggak kering. Kamu tahu soal piringan hitam pun tetap harus mencari tahu lebih dalam. Kalau hanya mengandalkan stok pengetahuan di otakmu, berarti kamu meremehkan pembacamu!”

Sampai sekarang aku jadi penulis purnawaktu, kata-kata itu masih terngiang. Menancap di benak saya setiap mau berkarya.

Tapi jangan berpikir yang canggih-canggih tentang kata “riset” ini. Sederhananya, riset adalah proses mencari tahu. Gimana caranya? Mari aku contohkan bentuk yang paling sederhana dan murah.

Dan biar spesifik, aku studi kasuskan novel terbaruku sendiri saja, Tiga Sandera Terakhir. Novel ini bertema militer. Sebelum menulis itu, aku nggak tahu apa-apa soal militer. Sumpah, nggak tahu apa-apa! Terus, gimana bisa jadi novel 309 halaman?

Riset.

(1) Awali dengan browsing

Dulu, pangkat militer aja aku bingung, “Habis Sersan itu apa ya? Mayjen dan Letjen tinggi mana ya?” Tapi, di era internet ini, semua pertanyaan itu tersedia jawabannya di Wikipedia. Pengetahuan-pengetahuan trivia semacam ini memang dengan mudah terpecahkan di dunia maya.

(2) Baca buku-buku militer

Untuk meriset Tiga Sandera Terakhir, aku menghabiskan duit tak kurang dari 300.000 untuk belanja buku. Sebenarnya ada alternatif gratis, yaitu baca atau pinjam di perpus. Ini pun udah aku jalankan. Tapi membaca buku perpus itu serba terbatas, Bro, Sist. Mending beli ajalah. Sekalian, menghargai jerih payah penulis lain. Buku langka (tapi relevan dengan novelku) pun aku buru lho sampai gudang penerbitnya.

(3) Tonton film/video militer

Ini cara yang asyik buat yang hobi nonton. Aku menonton puluhan film militer sebelum dan sambil menulis. Sedikit-banyak, film akan memperkaya wawasan kita, memantik ide baru, atau minimal membantu kita melihat mana konflik/masalah cerita yang klise, mana yang baru. Meskipun nggak ada jaminan juga semakin banyak kita menonton atau membaca, ide-ide kita pasti nggak klise.

(4) Mewawancarai orang yang sesuai

Bisa dilakukan dengan terang-terangan (lewat proposal atau pemberitahuan), bisa juga sembunyi-sembunyi (seolah percakapan biasa tapi terstruktur dan diam-diam diingat). Aku sempat mewawancarai terang-terangan seorang eks Kopassus yang sekarang jadi Korem.

Aku juga sempat mewawancarai sembunyi-sembunyi seorang Sersan Kopassus ketika keretaku di Solo tiba-tiba “diserbu” rombongan Baret Merah yang berencana perform di HUT TNI di Surabaya. Di situ, diam-diam aku menyerap gimana mereka ngobrol dengan sipil (aku), berdialog dengan sesamanya, bersenda gurau tentang granat, makan, dan sebagainya.

Kalau mau keren, lakukan juga studi etnografi ke komunitas yang bersangkutan. Misalnya, dengan menempel terus sebuah unit dari pagi sampai malam, selama berhari-hari. Atau, sekalian jadi anggota TNI. Tapi berhubung aku nggak sekeren itu, langkah-langkah ini nggak aku lakukan, hehehe….

Demi efisiensi, aku lebih memilih cara-cara riset yang sederhana dan nggak mahal. Meskipun kamu mungkin ada yang membatin, “Yaealah, cuma gini!?” Hehehe, terus terang, memang ini saja resepku. Masalahnya, maukah kita melakukannya atau sekadar berhenti di kata “yaealah”?

Semoga bermanfaat dan bisa dimanfaatkan.

Iklan

2 thoughts on “4 Cara Gampang Meriset Cerita (Studi Kasus: Novel Militer)

  1. Ping-balik: Mengenal Genre Thriller | Warung Fiksi ®

  2. Ping-balik: 5 Tips Menulis Cerita Berlatar Masa Depan | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s