Jangan Jualan ke Teman atau Keluarga, Juallah ke Orang Asing

Pembelimu bukan orang terdekatmu, mereka justru orang asingSebagian dari kita mungkin berpendapat, pas kita membisniskan sesuatu, entah itu jasa atau barang, juallah ke orang terdekat. Biar aman. Misalnya, jual ke teman-teman sendiri atau saudara. Benarkah strategi ini? Menurut Jack Ma, pendiri dan pimpinan Grup Alibaba di China, itu justru langkah yang keliru!

Lho, kok bisa? “Ketika kamu jualan ke teman dekat atau keluarga, nggak peduli berapa hargamu, mereka akan cenderung merasa kamu berusaha mengambil uangnya. Tak peduli hargamu udah dimurah-murahkan, mereka tetap nggak akan menghargainya,” terang Jack Ma.

Ini bener banget. Soalnya, aku mengalaminya sendiri pas jualan buku ke teman-teman sendiri. Kalau kamu dikasihani, mereka memang akan membeli darimu. Tapi dalam kasusku, mereka lebih sering minta diskon atau gratisan. Alasannya, “Sama temen aja jual mahal.” Atau mereka akan bikin penawaran yang nggak menarik seperti, “Ntar aku review deh. Biar daganganmu semakin dikenal dan cetar membahana.” Atau, “Nanti aku doain tiap hari biar sukses. Aku bangga lho kalau kamu sukses jadi penulis best seller.”

Halah, halah… Sori, bukannya aku nggak butuh buku di-review. Tapi lihat-lihat dulu dong, siapa yang ngomong. Emang dia siapa? Wartawan Budaya di Jawa Pos? Redaktur Kompas? Boro-boro, blog aja nggak punya! Jangankan blog, menulis status Facebook aja pating pecotot!

Coba bayangkan kalau tiap ada permintaan seperti ini kita turuti. Yakin deh, jualan buku nggak bakal untung, malah menggerogoti saldo tabungan. Alih-alih pulang modal, yang ada malah pulang amsyong.

Ironis, emang. Orang-orang yang dekat dengan kita justru nggak mampu melihat bahwa untuk menciptakan sebuah produk, kita butuh sekian bulan lembur, sekian tahun bekerja keras saat yang lain enak-enak tidur, sekian rupiah akumulasi dana operasional, dan sekian pengorbanan yang nggak terhitung karena bentuknya nggak kelihatan.

Itu mereka nggak mau tahu! Tahunya cuma, “Kamu punya buku baru, senang ya? Mbok aku dibagi-bagi senangnya. Satu eksemplar ajalah.” Dan mereka akan mencibir ketika kita menolaknya. Yang lebih parah, mereka bisa bilang, “Ya udah, kudoain nggak laku aja! Pelit sih!”

Astaghfirullah…. Udah nggak mau mendukung usaha teman, masih juga mendoakan yang nggak-nggak.

Padahal, coba tebak, mau nggak kalau misalnya dia jualan pulsa nih ya, terus aku minta pulsa gratis ke dia? Atau kalau dia jualan kue, terus aku minta diskon 50% dengan alasan “teman sendiri”, boleh nggak kira-kira?

Pasti nggak!

Jack Ma mengatakan, “Ketika kamu jualan, ingat, orang pertama yang percaya kamu biasanya orang asing. Teman-temanmu justru akan menjaga jarak. Sementara keluargamu akan meremehkanmu.”

Orang-orang asing ini bukan siapa-siapamu. Ketika kamu kaya, mereka nggak akan kecipratan duitmu. Tapi mereka udah “baik” terhadapmu. Intinya, mereka emang membutuhkan produk kita dan menggunakan akal sehatnya (bukan emosinya) buat memutuskan wajar nggak harga dibanding dengan manfaatnya.

Kalau merasa nggak wajar, ya mereka nggak akan beli. Kalau merasa wajar, mereka akan beli tanpa curiga, mempertimbangkan perasaan iri-dengki, atau menengok-nengok lagi siapa kita. Sesederhana itu keputusan beli mereka.

Makanya, tak peduli sudah seberapa tenar atau kaya kita, mari kita menghormati pelanggan, pembeli, klien, pembaca, dan follower kita. Mereka layak mendapatkan penghormatan itu, meskipun mereka bukan siapa-siapa kita. Bukan keluarga kita, bukan teman kita. Tapi jelas, orang-orang tak dikenal ini adalah yang terbaik dalam bisnis kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s