Dicari! Cara Elegan yang Efektif untuk Mempromosikan Buku

Mencari cara untuk menjual buku secara kreatif dan eleganTerus terang, yang paling kubenci dari menerbitkan buku baru adalah marketingnya. Tahu dong, penulis nggak boleh berpangku tangan menyerahkan pemasaran bukunya kepada penerbit. Kita harus ikut membantu mempromosikannya dengan berbagai cara supaya hasil penjualannya lebih maksimal. Terus, gimana kalau kita nggak ada bakat ke situ? Atau, bila kita kurang pintar soal marketing?

Itulah yang aku alami. Aku ini murni orang produksi. Bagi orang-orang seperti aku, memarketingkan buku itu mudah diucapkan, tapi sulit dilaksanakan. Ada masukan begini, “Ya tinggal contek aja metode penulis-penulis lain dalam memasarkan buku barunya. Lakukan persis seperti itu.”

Well, itu juga masalah. Karena sialnya, aku malah benci lihat penulis-penulis yang membombardir timeline Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya dengan woro-woro seputar bukunya.

Setiap hari, bahkan setiap jam, ada saja status atau gambar tentang bukunya. Bahkan buku yang lawas pun diangkat kembali! Kalau sekali-sekali sih nggak pa-pa, ini begitu agresif! Kadang-kadang, mereka juga nge-tag sembarangan berkaitan dengan promonya.

Nggak tahu kalian, tapi kalau aku lihat cara-cara spammer gitu kok malah jadi males ya beli bukunya.

Eh, tunggu dulu. Nggak cuma itu! Ada juga mereka yang memaksa-maksa untuk like fanpage buku tersebut. Dan yang lebih hebat lagi, tiba-tiba seseorang bisa memasukkan aku ke grup bukunya. Ah, Facebook emang menjengkelkan. Kenapa fitur yang bisa langsung menjebloskan seseorang ke sebuah grup (tanpa izin) masih ada saja!

Emang seagresif itukah harusnya penulis? Tanpa menjaga perasaan orang lain yang dibombardir (meskipun secara tidak langsung melalui timeline media sosial)? Aku ingat, jadi sales harus siap malu dan bermuka tebal.

Hm, berarti aku yang salah. Berarti aku yang emang nggak becus jualan buku.

Tapi nggak pa-pa. Yang aku yakini, perlakukan orang lain seperti aku ingin diperlakukan oleh orang lain. Jadi kalau aku nggak suka spam, maka aku juga nggak akan nyepam orang lain. Sesekali saja bolehlah, itu pun lakukan di timeline sendiri, dalam arti nggak perlu sampai nge-tag orang (yang tidak mau atau belum tentu suka) atau menyeret seseorang ke grupnya dengan semena-mena.

Aku yakin, ada cara yang lebih elegan dalam mempromosikan karya kita. Cara elegan yang harapannya efektif, bahkan lebih efektif dari cara serampangan di atas. Apa itu? Entahlah. Aku sendiri belum nemu. Sudah dibilang, aku kurang pintar soal marketing. Tapi yang jelas, ada dua prinsip yang kupegang teguh:

  1. Jangan pernah jadi penulis yang menjengkelkan, dengan melakukan promosi buku secara membabi buta.
  2. Kalau kita merasa buku kita berkualitas, mestinya kita nggak perlu sampai menghalalkan segala cara untuk menjual buku itu.

Ada komentar? Saran? Diskusi? Monggo….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s