Menghargai Profesionalisme

Seorang profesional memang tak pernah murahSeorang pemuda membawa laptopnya yang rusak ke tempat reparasi. Sebelumnya, dia sudah mencoba membetulkan sendiri laptopnya. Dia juga bolak-balik datang ke tempat-tempat reparasi yang lain. Tapi, hasilnya nol besar. Sejauh ini, laptopnya tetap tidak mau menyala.

“Sampeyan bisa benerin?” tanya pemuda itu kepada penjaga toko reparasi.

Tukang servis itu tidak menjawab. Dia hanya memeriksa laptop tersebut. Atas, samping, bawah, tombolnya, juga layarnya. Sejurus kemudian, dia menatap pemuda itu. “Jadi diservis di sini?”

“Tapi bisa nggak?” pemuda itu ragu. “Udah banyak yang nggak bisa lho, Mas.”

“Saya coba dulu. Kalau nggak bisa, situ nggak usah bayar.”

Berpikir sejenak, pemuda itu lalu mengiyakan.

Si tukang reparasi pun mulai membongkari laptop tersebut langsung di depan pemiliknya. Pria itu mengamati, berpikir, dan menganalisis. Kemudian, dia membuka salah satu panel di sana dan mengencangkan murnya. Setelah itu, semua dikembalikan ke tempat asal.

Pemilik laptop melihat jam tangannya, baru jalan lima menit. Dia pun mengerutkan kening. “Lho, udahan, Mas?”

“Ya dicoba makanya…” jawab tukang reparasi itu. Tombol On pun dipencet.

Ajaib! Laptop ternyata menyala. Dari proses booting sampai programnya terbuka semua, seperti tidak ada masalah.

Sang Pemuda terkejut campur senang. “Oke, makasih, Mas. Berapa bayarnya?”

“Tiga ratus ribu, Dik.”

“Busyet! Mahal banget, Mas! Kerja cuman lima menit, juga. Kan tadi cuma mengencangkan murnya aja!”

Tukas tukang servis menyibakkan poninya. “Biaya membongkar TV dan mengencangkan murnya sih saya hargai 50.000 aja. Tapi, biaya menemukan sumber permasalahan laptop ini ada di mur yang kendur… saya hargai lebih mahal. Rp 250.000.”

Pemuda itu merenung. Akhirnya, dia mengangguk setuju. Toh faktanya, dia tidak menemukan solusi di tempat lain. Meskipun harus membayar 300.000 dalam lima menit saja, dia merasa beruntung juga.

Yah, cerita ini mungkin fiktif. Tapi sering sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagian orang masih menilai segala sesuatu dari keringat yang keluar atau waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan sesuatu.

Padahal, semakin profesional seseorang, semakin cepat hasil kerjanya. Bahkan terkadang dia tak perlu mengucurkan keringat setetes pun. Meski terlihat santai dan tidak banyak bergerak, bukan berarti si tukang reparasi tadi tidak bekerja, bukan?

Aku punya calon klien ghostwriting. Dia bertanya-tanya terus. Aku kasih tahu, “Biaya pembuatan novel sekian, selesai dalam seminggu.”

Eh, dia malah kaget. “Nggak salah, Mas? Masa kerjanya seminggu doang, biayanya segitu?”

Tepok jidat dah! Ya jangan disamakan dengan gaji UMR, keleeeus….

Calon klien ini rupanya belum paham, justru kemampuan menyelesaikan novel dalam seminggu itu yang perlu dihargai. Apa dia mau novelnya kelar setahun (kayak novelku sendiri, hahaha)? Ini kami prioritaskan tenaga, waktu dan segenap skill buat menyelesaikan novelnya kok malah minta harga murah? Di situ, kadang saya sedih.

Untungnya, klien model begitu jarang kutemui. Harapanku, semoga ke depannya semakin punah populasinya. Semoga semua sadar, bahwa dimana-mana, seorang spesialis itu punya harga. Murah atau mahalnya itu relatif.

Meskipun persoalannya hanya mur, kalau tidak tahu mur mana yang salah, laptop nggak akan beres-beres kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s