Jangan Menggurui Pembaca Dong

Pembaca atau penonton itu orang cerdas, jangan menggurui merekaDalam mengarang, terkadang kita tergoda untuk menanamkan moral atau petuah-petuah tertentu. Tapi percayalah, kalau konteksnya fiksi, sebaiknya jangan lakukan itu dengan polosnya. Pilihlah jalan sedikit “memutar”. Memang agak sulit dan lama, tapi karyamu akan terlihat lebih manis. Biar jelas, kuberi contoh deh.

Rojim mengolok-olok Alim tentang kepercayaannya. Katanya, “Emang Tuhan itu ada, Bos? Kalau ada, kok nggak bisa dilihat?”

Alim terhenyak.

“Terus takdir,” imbuhnya. “Takdir itu apa sih? Semua itu kan tergantung manusianya. Kalau males ya kere, rajin ya kaya. Kalau orang itu gagal, bukan karena takdir, melainkan karena usahanya yang kurang maksimal. Takdir itu omong kosongnya orang bermental tempe saja.”

Belum sempat Alim menyanggah, Rojim sudah memberondong lagi, “Hahaha, aneh juga kalau lihat doktrin agama. Katanya setan terbuat dari api. Tapi kok nantinya disiksa di neraka. Padahal neraka kan terbuat dari api. Api ketemu api, ya nggak ngefek! Kecuali kalau setan-setan itu akan disiksa dengan air es, baru aku percaya cerita itu!”

Nah, apa yang kamu lakukan terhadap Alim seandainya dia harus membungkam Rojim di adegan itu juga? Ya, kamu bisa membuat Alim mengutip ayat-ayat Alquran untuk membuat Rojim mati kutu. Boleh.

Tapi kalau aku, suka ambil jalan sedikit memutar. Dan kadang rada terjal. Misalnya…

PLAKKKK! Alim menampar Rojim.

Rojim memegangi pipinya yang terasa panas dengan mata melotot ke arah Alim. “APA-APAAN KAMU INI, LIM? SAKIT, TAHU!”

Dengan tenang, Alim mengambil napas panjang dan bertanya, “Sakit? Aku nggak percaya. Mana coba buktinya kamu sakit?”

“Ya ini buktinya!”

“Heh, nenek-nenek salto juga tahu… itu pipi! Bukan sakit. Seriuslah, mana sakitnya?”

“Bocah kok ya nggak pinter-pinter! Sejak zaman purba, sakit itu emang nggak bisa ditunjukin. Nggak kelihatan!”

Alim tertawa. “Lha terus, kok kamu memvonis kalau Tuhan nggak kelihatan berarti nggak ada? Itu pertanyaanmu sendiri tadi, terus kamu jawab sendiri barusan!”

Rojim mulai merenung.

Belum sempat Rojim berkata-kata, Alim menukas, “Sudahlah, aku minta maaf. Tapi, mungkin itu karena kamu tadi sudah merencanakan buat kutampar? Hehehe…”

“Merencanakan pale lu! Ngapain merencanakan buat ditampar? Bego!” gerundel Rojim, masih sambil mengelus-elus pipinya.

“Nah,” sahut Alim penuh kemenangan. “Kamu nggak berencana kena tampar, aku juga nggak berencana menampar. Tapi akhirnya kutampar juga kan pipimu. Itulah takdir. Paham?”

Rojim tercenung.

“Jangan diem aja! Itu jawaban pertanyaanmu yang kedua! Sekarang, untuk menjawab pertanyaan ketigamu, aku perlu menamparmu lagi.”

Rojim bergegas mundur. “Jangan berani-berani ya! Minta mati kamu, Lim?”

“Lho, kenapa sih? Ini masih dalam rangka menjawab pertanyaanmu. Kenapa kamu nggak mau ditampar lagi?”

“Ya sakit, Dodooooool…!”

“Tanganku ini kan bahannya sama dengan wajahmu: daging, darah dan tulang! Nggak mungkinlah kamu bisa kesakitan. Wong setan yang dari api aja katamu nggak mungkin tersiksa dengan api neraka kan!”

Akhirnya, Rojim menampik tangan Alim. “Aaaah, sudah, sudah!” Lalu dia pergi begitu saja.

Cerita ini sekadar contoh sih. Tapi lihatlah, ketiga pertanyaan Rojim terjawab melalui adegan yang encer dan berpotensi komedi. Tanpa mengutip ayat-ayat atau menasehati ala guru kepada muridnya.

Bukan berarti mengutip ayat atau menasehati ala guru itu salah. Tapi biasanya, pembaca atau penonton akan menjaga jarak dan mudah menguap jemu dengan cerita-cerita fiksi yang menggurui seperti itu. Ujung-ujungnya, kan nggak bagus juga buat keterbacaan karya kita. Oh ya, karakter-karakter hitam-putih (jahat total atau baik sekali) itu juga membosankan.

Itu kalau aku sih. Kalau kamu punya pendapat berbeda ya silakan. Yang jelas, tolong follow dong Twitter Warung Fiksi dan Google Plusnya. Tengkyuuu… 🙂

Iklan

One thought on “Jangan Menggurui Pembaca Dong

  1. Ping-balik: Balada Adit, Sopo dan Jarwo | Brahmanto Anindito's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s