Di Punggungku

Ramai selalu bermain di punggungku. Sehingga aku selalu bertanya-tanya, apa di sana serupa lapangan bola dengan rumput yang selalu hijau rata? Atau mungkin punggungku semacam orkestra melayu dengan penari-penari seronoknya?

Tapi serupa gaduh, ia tak acuh dan berlarian ke segala arah. Ia begitu bebas tertawa, mengejek, dan mencanda hingga perutnya keras dan air matanya berlelehan deras.

Rasanya, ia tak ambil pusing dengan keadaan punggungku. Apakah rata atau bergelombang, apakah berlumpur karena hujan dan atau dipenuhi sampah sisa perhelatan. Tapi telingaku terkadang mendengar tawanya bersama deru air terjun, atau bersama raungan mobil balap formula.

Apakah punggungku ibarat taman surga baginya?

Aku tentu saja susah mengimbangi tingkahnya. Namun mataku tak pernah sedetik pun alpa mengitari jejaknya, yang menghitam di punggungku serupa rel kereta yang tak menampakkan satu pun stasiun yang pernah juga kusinggahi pada suatu senja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s