Kekuatan Konteks

Context is the king

Context is the king

Bayangkan, kamu menawari seorang teman yang kebetulan sedang berkunjung ke rumahmu untuk makan malam. Tapi si tamu bersikeras, “Udah makan kok.” Padahal kamu perhatikan tubuhnya lesu, mulutnya kering, napasnya bau asam lambung pertanda sudah kosong selama berjam-jam.

Penolakan verbal adalah teks. Sedangkan kondisi tubuhnya adalah konteks. Mana yang lebih kamu percayai? Kata-katanya atau tanda-tanda di tubuhnya? Teks atau konteks?

Biasanya, konteks lebih meyakinkan dari teks. Kita pun cenderung percaya kalau teman kita itu belum makan. Pertarungan antara teks vs konteks biasanya dimenangkan oleh konteks.

Sekarang, gimana kalau konteks vs konteks?

Kamu lihat temanmu menggebrak meja dan menendang kursi setelah ditolak cewek. Tidak ada kata-kata. Apa bisa langsung disimpulkan dia marah? Belum tentu. Lihat dulu konteksnya. Maksudku, konteks yang lebih detail.

Tindakan brutal itu bukan berarti marah kalau temanmu saat itu memasang wajah bebek lalu geleng-geleng kepala dengan jenaka. Konteks juga bisa dikaji melalui sifat temanmu. Kalau dia emang tipikal orang yang suka bercanda, maka kemungkinan besar, dia nggak sedang marah. Melainkan hanya sedang melawak.

Sebaliknya, tanpa wajah bebek itu, tanpa gelengan kepala yang komedi itu, bahkan tanpa mengenal karakter si pria yang selalu suka bercanda, kita pasti cenderung menyimpulkan bahwa dia betul-betul marah.

Konteks harus selalu dipertimbangkan ketika kita menciptakan semesta fiksi dan karakter-karakter fiktif kita. Bahkan sering, konteks itu lebih penting dibanding teks.

Sepotong kata bisa serba nggak pasti

Bukan cuma ABG alay, kata pun bisa jadi labil bila nggak diketahui konteksnya. Kata “jauh” atau “dekat”, contohnya. Berapa meter sih yang disebut dekat itu? Berapa kilometer yang disebut jauh? Relatif banget. Kudu jelas dulu konteksnya.

Coba, Semarang dan Jogjakarta itu jauh atau dekat? Kalau konteksnya LDR (Long Distance Relationship), jarak itu tergolong dekat. Setiap hari ketemu aja mestinya masih bisa.

Tapi, kalau konteksnya gerak jalan, tentu Jogja-Semarang itu termasuk jauh!

Yang lebih aneh, kedua kata itu pun kadang bisa disamakan lho. Misalnya, ada judul artikel koran “Mengenal Lebih Jauh Para Capres”. Artikel itu, setelah dibaca, ternyata mengupas profil para capres secara lebih mendalam dan detail.

Eh, kemudian koran lain memberi judul, “Mengenal Lebih Dekat Para Capres”. Sama juga, artikel itu pun membahas profil para capres secara lebih detail dan mendalam.

Nah lo! Terus, yang benar itu penggunaan frase “lebih jauh” atau “lebih dekat” dong? Kamu bingung? Aku juga. Tapi kita sama-sama tahu, lebih dekat atau lebih jauh itu artinya sama saja dalam konteks ini.

Sepotong kata tiba-tiba bisa menjadi antonimnya

Seorang cowok akan memberi hadiah istimewa buat pacarnya. Tapi sang Kekasih harus menutup matanya. Cewek itu pun manut. Memejamkan mata. Lalu, begitu matanya terbuka beberapa detik kemudian, tiba-tiba lampu di ruangan sudah gelap dan di depannya berdiri boneka Annabelle.

Si cewek langsung kaget. Jantungnya berdebar-debar. Sesaat kemudian, lampu menyala dan pacarnya keluar sambil cekikikan. Cewek itu langsung memungut si Annabelle dan memukuli pacarnya dengan itu, “Ih, kamu tuh ya! Benci deh sama kamu! Nyebelin, nyebelin, nyebeliiiiin…!”

Mereka terbahak-bahak bareng. Si cowok tahu, Annabelle adalah film favorit ceweknya. Meski dia horor-horor gimana gitu pas nonton. Tapi dia suka banget. Dan dia surprise dengan kado yang “kreatif” itu. Makanya mereka berdua (atau bertiga bila boneka itu dianggap hidup) langsung selfie.

Lihatlah, si cewek memukul-mukul pacarnya. Dia bilang jeleklah, bencilah, nyebelinlah, tapi senyumnya merekah lebar. Malah setelah itu mengajak cowoknya selfie.

Pertanyaannya, apakah kata “benci”, “sebal” atau “jelek” yang diucapkan cewek itu udah sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia? Ya enggak lah! Bahkan maknanya sudah berbeda 180 derajat! Benci di sini maknanya menjadi “sayang”, “peduli”, atau hal-hal yang justru positif. Di sinilah sebuah kata bertransformasi menjadi lawan katanya (antonim).

Itulah kekuatan konteks. The power of context.

Repotnya, dalam bahasa tulis, konteks sering sulit kita perlihatkan. Karena itulah, dalam pengiriman SMS, komentar Facebook atau bentuk-bentuk komunikasi tulis lainnya, kita merasa perlu menambahkan smiley atau “hehehe”.

Tujuannya, memberikan konteks pada teks. Misalnya, “Idemu nggak bermutu! :P” Coba bandingkan dengan kalimat yang hanya, “Idemu nggak bermutu!”

Mana yang lebih berpeluang memicu perang dingin atau bahkan Baratayuda antarteman? Pasti kalimat kedua kan? Padahal, kalimat pertama hanya dikasih smiley sedikit. Ampuh sekali smiley itu.

Sayangnya, trik ini nggak selalu berhasil. Dalam tulisan-tulisan seperti artikel koran, esai atau novel, kita nggak bisa seenaknya menyisipkan smiley, “hehehe”, atau “wkwkwk”. Cara menciptakan konteks untuk karya-karya yang serius begini harus lebih elegan. Kapan-kapan bisa kita bahas triknya lebih dekat. Eh, maksudku, lebih jauh. Eh, lebih… Ah, nggak tahu, ah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s