Mengubah Diri Lebih Mudah dari Mengubah Dunia

Daripada menutupi bumi dengan karpet, mending mengalasi telapak kaki

Daripada menutupi bumi dengan karpet, mending mengalasi telapak kaki

Alkisah, ada seorang presiden yang begitu manja. Tiap pergi kemana-mana, dia selalu minta dihamparkan karpet empuk di sepanjang jalannya. Dia takut telapak kakinya kena kerikil tajam, jalan yang panas, atau pecahan beling.

Akhirnya, setiap presiden itu melakukan kunjungan ke suatu daerah, banyak orang yang direpotkan dengan menyediakan dan menggelar karpet yang panjang. Biaya kunjungan pun jadi membengkak.

Melihat pemborosan ini, seorang penasehat punya inisiatif. “Pak Presiden, bagaimana kalau pengeluaran untuk karpet ini ditiadakan saja?”

“Maksud loe?” Presiden itu langsung mendelik. “Loe pengen kaki gue terluka, gitu? Loe minta dipancung pakai silet cukur ya?”

“Waduh, bukan begitu, Pak Presiden. Sudah, begini saja. Panjang telapak kaki Bapak berapa? Atau… permisi, bisakah Bapak kemari sebentar untuk saya ukur?” pinta penasihat itu.

Diukurkah kaki presiden itu. Dari situ, si penasehat menginstruksikan tukang jahit profesional untuk membuatkan alas kaki.

Jadilah sandal untuk presiden!

Sejak saat itu, pahamlah sang Presiden tentang maksud penasehatnya. Bukan buminya yang perlu ditutupi untuk melindungi kaki sang Presiden. Melainkan hanya kakinya yang perlu dialasi! Lebih cepat, murah, dan praktis! Dengan efek kenyamanan yang sama.

Ya, mungkin cerita itu cuma rekaan. Katakanlah, dongeng sebelum tidur. Mana ada sih presiden belum kenal sandal atau sepatu, hahaha.

Tapi, moral dari cerita ini jelas, nggak usahlah kita sok-sokan mau mengubah dunia. Ubah aja diri kita sendiri. Lakukan aja! Dijamin hasilnya lebih cepat, murah, dan praktis!

Dalam konteks penulisan, misalnya kita mati-matian mencari tempat yang sunyi dan nyaman untuk menulis. Ini terus kita jadikan alasan dari ketidakproduktivan kita.

“Ya jelas aja bukuku nggak jadi-jadi, kan di rumah gue diganggu terus sama anak.”

“Aku belum nyelesain satu karya pun tahun ini. Maklum, temen-temen kosku ngajak kelayapan terus!”

“Belum, belum. Nanti aku bakal nerbitin novel, kalau udah pindah ke rumah baru yang lebih tenang. Pindahnya kapan? Entahlah, sekarang masih nabung dulu buat beli rumah.”

Yaelaaaaah….

Bro, Sis, kalau kita bukan orang kaya, susah deh dapet tempat yang ideal buat nulis. Atau minimal, lama! Nyerah aja mendingan. Terus, berkompromilah dengan keadaan.

Daripada buang-buang waktu mencari atau membangun tempat ideal, kenapa nggak kita aja yang berubah? Kenapa kita nggak belajar fokus pada layar komputer dan cerita? Kenapa kita nggak belajar mengabaikan percakapan gosip Mama, nyanyian-nyanyian fals Kakak, atau perdebatan antara Papa dan Adik?

Begitu kita bisa mengubah diri, sebising apapun dunia, kita bakalan asyik-asyik aja menulis. “Mau loe nulis di pasar tradisional pun bisa jadi skenario. Mau loe menulis di bawah jalan layang pun bisa jadi novel,” pungkas sang Presiden tadi sambil memamer-mamerkan sandal barunya.

Iklan

One thought on “Mengubah Diri Lebih Mudah dari Mengubah Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s