Fiksi Mini: Fanatisme copras capres

Fanatisme copras capres. Cerpen oleh Brahmanto Anindito.

Fanatisme copras capres

Pukul 11 malam. Ah, harusnya kutolak saja tantangan teman-temanku meneruskan permainan PlayStation tadi. Lihatlah akibatnya sekarang. Aku harus menyusuri jalan pulang yang sepi dan dingin ini. Sendirian. Menjengkelkan sekali. Rumahku masih 10 menit berjalan kaki dari sini.

BRUAKK!

Astaga, apa itu?

Mataku membelakak melihat sebuah sepeda motor yang berkecepatan tinggi tersungkur lima meter di depanku.

Sedetik-dua detik, aku tergagap. Begitu juga si korban. Lelaki itu diam tak bergerak begitu mencium aspal. Setelah kesadaranku pulih, buru-buru aku menghampiri pemuda malang itu untuk membantunya.

Tapi, rahangku ternganga melihat kaos yang dikenakannya. Kaos itu tertutup jaket sebagian. Namun aku masih bisa melihat sebuah logo partai menyembul di sana!

Aku memandanginya dengan mata tak percaya. Sementara orang itu menyeringai kesakitan dari balik helmnya. Aku berjongkok. Hendak menolongnya. Namun entah mengapa tangan ini tiba-tiba terhenti. Entah kenapa pula mulut ini spontan bertanya, “Presiden pilihan sampeyan siapa, Mas?”

Si korban kecelakaan langsung melotot. Mungkin karena kesakitan. Mungkin karena heran dengan pertanyaanku. Aku tak begitu yakin. Maka, aku ulangi pertanyaanku. Terus kuulangi. Hingga akhirnya dia mengucapkan nama capresnya dengan susah payah.

Aku mengambil napas panjang. Menggeleng-geleng.

Sampeyan memilih calon presiden bajingan, Mas. Parpol-parpol di sekitarnya juga bajingan!” aku berusaha mengingatkannya dengan sopan.

Orang itu bergeming di atas aspal. Matanya mengerjap-ngerjap. Lalu dia melolong panjang seperti orang gila. Seperti tidak terima dengan kata-kataku yang penuh fakta itu.

“Tidak ada orang yang berpikiran maju yang mau mencoblos dia. Sadar nggak, Mas?” aku mencoba mengingatkan lagi. Siapa tahu dia hanya khilaf memilih capres itu.

Namun tetap tak sepatah kata pun meluncur dari mulutnya. Aku yakin, dia takkan mampu menyangkal argumenku.

Perlahan, tangan kanannya yang gemetar memegang lututnya yang berdarah. Lalu dia menunjuk-nunjuk bodi motor yang sedari tadi menindih betisnya.

Astaga! Jari itu… Seperti hendak mengatakan sesuatu! Seperti hendak menghinaku dengan nomor urut capresnya.

“Keparat!” umpatku tepat di depan wajahnya.

Aku pun buru-buru pergi meninggalkan pria sial itu. Maaf, aku tak punya waktu untuk meladeni pemilih fanatik seperti dia.

Iklan

2 thoughts on “Fiksi Mini: Fanatisme copras capres

  1. Ping-balik: Mengubah diri lebih mudah dari mengubah dunia | Warung Fiksi ®

  2. Ping-balik: Kekuatan Konteks | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s