Paragraf Pemicu Suasana Horor

Contoh naskah horor

Contoh naskah horor

Era horor barangkali udah berlalu, mungkin sejak zaman film-filmnya Suzanna atau horor-horor bercampur komedi-seks yang nggak pernah absen dari bioskop kita sejak 2005. Tapi, tidak ada salahnya juga kan menantang diri untuk menulis cerita horor. Siapa tahu malah ketagihan, hehehe….

Aku sendiri bukan penulis spesialis horor. Tapi seenggaknya aku pernah menerbitkan novel yang berbalut kisah horor, yaitu novel Rahasia Sunyi. Asyik juga lho sebagai penyegaran otak penulis.

Eh, tahu nggak sih, menciptakan nuansa horor itu sebetulnya nggak harus dengan menampilkan (mendeskripsikan) makhluk yang menakutkan. Dengan “membicarakannya” saj,a penonton atau pembaca sudah bisa dibikin berdiri bulu kuduknya. Sekadar memberi contoh nih, perhatikan paragraf-paragraf ini…

Anjing Aneh

Sepulang Rinda dari kunjungan ke Kalimantan selama seminggu, anjing itu seperti tidak mengenali majikannya lagi. Ia sering menggonggonginya layaknya Rinda adalah orang asing. Sudah begitu, penglihatannya seperti bermasalah pula. Setiap kali menatap Rinda, bola mata anjing tua itu seperti tidak fokus ke majikannya. Rabun dekat, duga gadis itu.

Tapi, hasil pemeriksaan dokter hewan menyatakan semuanya normal-normal saja. Belakangan, Rinda mulai yakin bahwa anjing kesayangannya bukan sedang menatapnya. Melainkan melihat sesuatu yang ada tepat di belakang Rinda. Itu pula yang menyebabkannya selalu menggonggong hampir setiap kali di dekat Rinda.

Panggilan Ayah

Asih mendengar ayahnya memanggil-manggil namanya dari gudang yang baru itu. Gudang itu tak terawat, penuh debu, dan gelap. Maka Asih segera beranjak menuju gudang. Khawatir terjadi sesuatu pada ayahnya di sana.

Tapi, sebelum berhasil menjangkau pintu rumah, sang Ayah menarik tubuh Asih dan menempelkan telunjuk di bibirnya. Keningnya berkerut. Terlihat sekali wajah ayahnya itu sudah pucat, entah karena apa. “Ya, Ayah juga dengar suara-suara itu, Asih,” katanya.

Tangan

Sepulang dari lemburan di kantor, Dimas buru-buru pulang dan berharap segera bisa tidur nyenyak di ranjang empuknya. Dia pun masuk ke kamar apartemennya. Seperti biasa, ruangan itu gelap dan dingin menjelang tengah malam begini. Tangannya meraih saklar lampu.

Tapi tenggorokannya tercekat menyadari bahwa sudah ada tangan yang lain di situ. Seperti tangan manusia. Hanya, jari-jarinya besar sekali, berbulu lebat, dan bergeser menjauh setelah seberapa detik bersentuhan dengan tangan Dimas. Tanpa suara.

Nah, bagaimana? Udah cukup menghangatkan dada, bukan?

Tapi itu sekadar contoh selintas. Kalau paragraf-paragraf di atas dikembangkan menjadi cerpen, bab novel atau skenario utuh, wah, bisa tambah menggigit tuh nuansa horornya!

Intinya, Bro, Sist, membuat nuansa horor itu adalah dengan memunculkan kejutan-kejutan yang membuat pembaca atau penonton tahu bahwa ada sosok lain di dekat sang Tokoh. Entah siapa sosok lain itu. Bisa makhluk supranatural, monster, atau penjahat. Lepaskan imajinasimu untuk menggedor-gedor ketakutan audiensmu.

Menarik, bukan? Nah, tunggu apa lagi? Silakan dicoba sendiri. Aku yakin kamu bisa menulis cerita horor yang lebih “mengerikan” dibanding contoh-contoh di atas. Salam kreatif!

Iklan

One thought on “Paragraf Pemicu Suasana Horor

  1. Ping-balik: Kekuatan Konteks | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s