Dewan Kesenian Mojokerto: Peran dan Fungsi

Sebuah pertemuan dihelat pada 7 Maret lalu. Event bertajuk “Peran dan Fungsi Dewan Kesenian Kota Mojokerto” itu membuat mata saya sedikit terang dalam melihat realitas seni di Kota Mojokerto. Izinkan saya di sini menyumbangkan beberapa pandangan seputar poin-poin yang sempat saya catat malam itu. Yah, kalau dirasa terlambat, anggaplah tulisan ini sebagai bacaan di waktu senggang saja.

Eksistensi Dewan Kesenian Mojokerto

Cak Edy Karya bertanya malam itu, “Apa Dewan Kesenian Mojokerto masih diperlukan?” Menilik peran beliau yang besar dalam dunia kesenian di Mojokerto, agaknya kita bisa menduga latar belakang pertanyaan itu. Dari situ, diskusi kemudian bergulir ke berbagai persoalan dalam tubuh Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM).

Saya kira, kesenian tanpa campur tangan dewan kesenian memang tetap bisa berjalan. Tapi gerakan dan iramanya hanya akan mengikuti gerak pribadi seniman. Di sinilah arti penting dewan kesenian sebagai payung sekaligus wadah, yaitu menyinergikan gerak masing-masing pelaku seni dengan gerak berkesenian yang lebih luas.

Dewan Kesenian Kota Mojokerto tidak perlu mengambil wilayah kerja yang terlalu luas. Sebagai langkah awal, cukuplah menjadi ruang cair. Semacam jembatan antara seniman dengan seniman lainnya, serta antara seniman dengan penikmat seni. Supaya seniman tidak menjadi kelompok masyarakat yang eksklusif: dari, oleh, dan untuk seniman.

Ruang cair itu dapat berfungsi jika Dewan Kesenian Kota Mojokerto mengenal dan mampu memetaguyubkan orang-orang yang berkesenian di wilayahnya. Peran dan fungsi yang harus diambil, yang terlintas di pikiran saya, adalah sebagai pusat data dan dokumentasi. Sehingga jejak-jejak sejarah seniman dan proses berkeseniannya tidak hanyut begitu saja seiring berlalunya zaman. Jangan sampai nantinya kita hanya kenal nama besar seorang seniman tanpa tahu apa yang membuatnya menjadi seniman besar.

Berbagai artefak berkesenian dari pelaku seni di Mojokerto harus dimiliki: buku-buku (biografi, bunga rampai, karya sastra), katalog seni, video pertunjukkan, jurnal, buletin, dll. Saat ini, masing-masing seniman memang sudah melakukannya. Tapi secara sporadis.

Dewan Kesenian Kota Mojokerto harusnya menjadi gapura awal lalu-lalang semua aspek berkesenian. Fungsi kesekretariatan harus optimal sehingga Dewan Kesenian Kota Mojokerto bisa menjadi rujukan awal bagi penikmat, peneliti dan kritikus seni, baik dari dalam maupun luar daerah Mojokerto.

Pendanaan Dewan Kesenian Mojokerto

Sebenarnya, sebelum malam pertemuan itu, di berbagai daerah sudah banyak beredar kasak-kusuk tentang peran dan fungsi Dewan Kesenian. Saya adalah satu di antara banyak seniman yang menyayangkan cara-cara membesarkan seni melalui event yang jor-joran dimana Dewan Kesenian Kota Mojokerto mengambil peran dan fungsi sebagai Event Organizer (EO).

Padahal, semua seniman setuju bahwa fokus bidikan kesenian, sejalan dengan misi kota Mojokerto, adalah membangkitkan kembali nilai-nilai moral yang mulai luntur. Jadi, kok yang jadi topik pembicaraan cuma event? Sehingga yang mengemuka dalam rembug adalah bagaimana Kota Mojokerto bisa membuat gebyar seni yang mengundang decak kagum, “Wuaaah… seniman Kota Mojokerto hebat ya!”

Mungkin saya sangat naif, tapi Dulur, bukankah garis bawah kita tadi adalah nilai moral?

Jadi, saya ingin sekali mendengar bila Dewan Kesenian Kota Mojokerto bisa bermain di wilayah pembinaan. Dewan Kesenian Kota Mojokerto harus mengambil peran dalam merumuskan desain kesenian di Kota Mojokerto. Misalnya tentang bagaimana wajah kesenian yang diharapkan lima, sepuluh, bahkan 20 tahun mendatang.

Virus berkesenian, saat ini, saya rasa tidak efektif ditularkan melalui acara selama satu atau dua hari yang menghamburkan uang ratusan juta. Belum waktunya, Dulur. Ini prematur! Komunitas-komunitas seni bisa bilang itu hebat. Namun tidak ada artinya kalau masyarakat umum menilainya pemborosan, kesia-siaan, atau bahkan kurang kerjaan.

Lebih sedap kiranya bila tiap divisi dalam Dewan Kesenian Mojokerto memiliki rencana yang terperinci tentang pembinaan. Wilayah moral sebagai bidikan harus diperjuangkan dengan membuat “ruang di hati” generasi muda untuk seni. Jika sudah ada ruang semacam itu, maka tiap gebyar event akan menemukan bobot nilai, bukan sekadar rutinitas dan tontonan.

Saya sangat salut kepada pribadi-pribadi yang telah membuka sanggar-sanggar kesenian dan komunitas-komunitas kesenian. Merekalah pribadi-pribadi yang telaten membuka “ruang di hati” generasi muda. Merekalah yang telah menyuntikkan virus berkesenian ke nadi-nadi para generasi muda.

Seiring dengan bertambahnya jumlah pemerhati, seni akan menjadi sesuatu yang cair nantinya. Kita tidak bisa menggantungkan kehidupan berkesenian akan dipanggul oleh anak-anak seniman, bukan? Maka jika kita bina 10 anak tiap tahun, dalam 10 tahun akan ada 100 kader.

Jika beruntung, kita akan menemukan satu atau dua anak tiap tahun yang cepat menjadi matang sehingga mampu mencarikan kita 10 anak berkualitas lainnya. Dengan begitu, semua akan terlipatgandakan dan kita tak perlu kekurangan seniman bermutu lagi.

Dewan Kesenian Kota Mojokerto Periode Mendatang

Informasi tentang berakhirnya masa tugas pengurus Dewan Kesenian Mojokerto dalam pertemuan malam tersebut menyiratkan titik terang di berbagai aspek. Salah satunya seputar penggunaan dana yang diberikan oleh Pemerintah Kota.

Selama ini, pengurus dewan mengklaim anggaran tersebut sangat kecil untuk mendanai event-event. Seolah ada kesepakatan bersama bahwa dana dari Pemerintah Kota untuk Dewan Kesenian adalah dana operasional, bukan dana event. Dana event sendiri bisa digali dari beberapa SKPD yang memiliki bidang budaya.

Itu pun jauh dari cukup. Miris rasanya mendengar bahwa aliran listrik Sekretariat Dewan Kesenian Kota Mojokerto sampai kena segel gara-gara menunggak pembayaran.

Saya tidak menyoal teknis pemilihan dan siapa yang di periode mendatang akan memimpin Dewan Kesenian Kota Mojokerto. Pertemuan malam itu cukup menggambarkan keseriusan Dulur-dulur seniman dalam memajukan kesenian melalui payung Dewan Kesenian Kota Mojokerto. Tinggal pihak birokrasi memahami atau tidak kehendak seniman Kota Mojokerto ini.

Jika Bapak Walikota sudah memberikan lampu hijau bahwa Dewan Kesenian harus dipimpin oleh seniman, itu cukup baik. Namun, rasanya ini bukan masalah orang seni atau bukan orang seni. Ini masalah niat awal untuk memajukan dunia seni.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s