Cerpen: Dongeng buat Malam

Cerpen: Dongeng buat Malam

Cerpen: Dongeng buat Malam

Malam sedih. Bulan dan Bintang tidak mau menemaninya sampai pagi. Orang-orang juga tidak peduli. Malam merasa hidupnya sia-sia. Ia ingin mati saja. “Tuhan, ambil saja nyawaku. Biarkan hari terus siang, toh semua makhluk tidak menginginkanku,” pinta Malam pada Tuhan.

“Tidak,” tegas Tuhan. “Kau harus tetap hidup. Siapa bilang makhluk-makhluk cipaanKu tidak menginginkanmu? Mereka hanya terlalu sibuk dengan urusan mereka. Nanti pun mereka akan kembali menikmati kehadiranmu. Percayalah, Aku tidak pernah salah.”

Malam tak minta apa-apa lagi. Ia percaya saja pada Tuhan.

Tapi besoknya, besoknya lagi, terus sampai berbesok-besok kemudian, apa yang dikatakan Tuhan tidak terwujud. Malam tetap kesepian. Kadang-kadang ia menyanyi sendiri, tertawa sendiri, ngomong sendiri. Berisik.

Seorang gadis sampai terbangun karenanya. “Siapa yang bersuara malam-malam begini?”

“Aku,” jawab Malam.

“Kamu siapa?”

“Aku Malam.”

Si gadis turun dari tempat tidurnya. Dibukanya jendela kamar dan Malam menyapanya dengan inosen, “Hai.”

Tidak ada sapaan balasan dari si gadis. Dia marah. “Kamu ngapain berisik? Nggak sopan, tau. Sekarang kan waktunya tidur. Memangnya kamu tidak tidur?”

Malam menggeleng.

“Kamu nggak ngantuk?”

“Gimana bisa ngantuk? Aku sedang memikirkan sesuatu saat ini. Aku sedih.”

“Sedih kenapa?”

Malam tersedusedan. “Soalnya orang-orang dan binatang dan tumbuhan tidak peduli padaku. Mereka seperti tidak menyadari kehadiranku, tidak membutuhkanku. Seolah aku ada untuk mereka abaikan.”

Mendengar penjelasan itu, si gadis jadi iba. “Aku tidak tau kamu juga ingin diperhatikan seperti Siang. Atas nama semua makhluk ciptaan Tuhan, aku minta maaf.”

Sunyi. Tidak ada yang bersuara. Si gadis memeluk Malam.

Tiba-tiba si gadis melonggarkan pelukannya. “Supaya kamu tidak kesepian, bagaimana kalau kamu masuk kamarku?”

Malam tertegun. Akhirnya ada juga yang peduli padaku, pikirnya.

Si gadis membuka jendela kamarnya lebar-lebar supaya Malam bisa masuk. “Aku akan membacakan dongeng buatmu,” katanya.

Kemudian si gadis mendongeng. Ceritanya seru sekali sampai-sampai Malam terbawa suasana dan tidak menyadari kalau ceritanya sudah habis. “Saatnya kamu pulang, Malam. Besok akan kubacakan lagi cerita buatmu,” si gadis mengingatkan.

“Terima kasih, gadis manis. Aku akan selalu mendengarkan ceritamu. Teruslah bercerita. Karena dengan bercerita, kamu juga bisa menghadirkan cahaya padaku,” kata Malam sambil pamit.

“Baiklah, Malam. Sampai jumpa lagi.”

Malam keluar kamar si gadis. Ia kembali ke dunianya.

Sebelum menutup jendela, si gadis mendongak menatap langit. Sebuah titik kecil nan terang muncul di sana.

Iklan

One thought on “Cerpen: Dongeng buat Malam

  1. Ping-balik: Mengubah diri lebih mudah dari mengubah dunia | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s