Mengirim Naskah yang Sama ke Beberapa Media Sekaligus

Pertanyaan yang cukup sering aku terima, “Boleh nggak sih kirim naskah yang sama ke beberapa media dalam waktu bersamaan?” Menunggu kabar diterima atau ditolak itu emang lama dan menjengkelkan. Media A minta waktu dua minggu (padahal dalam seminggu saja topik yang kamu tulis udah basi). Media B suka telat berbulan-bulan kasih kabar dimuat atau nggaknya. Males kan…

Tapi, tetap… bersabarlah. Jangan sekali-kali mendua. Mengirim naskah yang sama, sekalipun kamu udah memodifikasi judul dan nama-nama tokohnya, ke dua media atau lebih sekaligus itu kalau semuanya menolak sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu kan kalau semuanya menerima dan memuatnya. Sumpah, itu nggak etis, Sob!

Media itu kan sebuah bisnis juga. Persaingannya juga ketat, bahkan gila-gilaan. Mereka tentu ingin sebisa mungkin kontennya eksklusif. Bukannya malah kembaran dengan koran, majalah atau tabloid lain. Kita aja kalau lagi jalan di mal dan berpapasan orang yang bajunya sama, malu kan? Bawaannya pengen ngumpet atau cepet pulang kan? Nah, apalagi media.

Perumpamaan yang lain, sama kayak orang pacaranlah. Bayangin kamu cewek dan sedang ditembak cowok, terus kamu terima cowok itu. Tapi belakangan, ketahuan kalau cowok itu ternyata juga nembak cewek lain (dan diterima juga). Gimana perasaanmu? Kamu yang introver bakalan gondok tujuh hari tujuh malam kan? Sementara kamu yang ekstrover bakalan langsung nyemprot tuh cowok kan? Intinya, nggak seneng kan berhadapan dengan orang yang mendua? Nah, apalagi media.

Apa yang dilakukan media ketika memergoki “cowoknya” ternyata selingkuh di belakangnya? Ada contoh aktual yang aku dapat dari status Facebook Sutono Suto. Dia mengutip Tabloid Cempaka edisi 39. Seorang pembaca menanyakan Redaksi Tabloid Cempaka:

Dear Cempaka, langsung saja ya. Cerpen kamu di edisi 38 kok sama dengan cerpen yang dimuat Suara Merdeka? Apa pengarangnya sama dengan nama berbeda?

Redaktur Tabloid Cempaka pun menjawab:

Kami telah mengonfirmasi Teguh Affandi, sang Penulis. Dia mengaku mengirimkan cerpen serupa, dengan judul, nama penulis dan tokoh yang berbeda di Suara Merdeka dan Cempaka. Atas pertimbangan etika, kami memutuskan menutup pintu terhadap semua karya Teguh Affandi yang dikirim ke Cempaka.

Tulisan kembar pernah juga terjadi di rubrik Opini (nonfiksi) Kompas dan Jawa Pos. Penulisnya sama, dimuat di tanggal yang sama. Terus, salah satu pembaca Kompas memergokinya. Nggak pake lama, besoknya ada pengumuman di Kompas bahwa artikel opini si X kemarin ternyata juga dimuat di Jawa Pos. Karena itu, ke depannya, Kompas tidak akan memuat lagi tulisan dari Mr. X ini. “Tak peduli seberapa bagusnya tulisan itu,” Redaksi memberi penekanan.

Jawa Pos-nya, setahuku, tenang-tenang saja. Tapi aku tahu standar Jawa Pos kurang-lebih serupa. Tulisan-tulisan dari penulis itu pasti juga di-black list dari jaringan medianya (tidak hanya di Koran Jawa Pos lho, tapi ratusan media lain di bawah JPNN).

Bagi media-media semacam itu, nggak rugi kok memblokir seorang penulis. Saya pernah diberi tahu seorang redaktur Jawa Pos, bahwa koran itu tiap hari menerima dua karung goni naskah artikel. Kalau sekarang, mungkin penulis ngirimnya dalam email ya, jadi nggak karung-karungan. Tapi jumlah naskahnya pasti sebanding dengan dua karung goni. Bahkan sangat mungkin lebih!

Kebayang nggak tuh puyengnya menyeleksi tiap hari mana yang akan dimuat besoknya. Maka ketika ada penulis yang rese dan mengabaikan etika dengan mengirim naskah yang sama ke media lain, tentu Redaktur malah “berterima kasih”. Karena dengan begitu, dia nggak perlu capek-capek lagi membaca naskahnya. Begitu melihat nama si X, langsung deh, lempar ke tong sampah.

Akhirnya, penulislah yang rugi. Karena tiap kali mau mengirimkan naskah, dia jadi perlu mikir untuk pakai nama lain dulu. Atau meminjam nama teman. Belum lagi kalau si teman ini minta pembagian honor. Wah, rugi waktu, rugi uang, hehehe…

Makanya, Sob, main jujur ajalah sejak awal. Tunggu sampai si dia menolakmu, baru kamu kirim lagi ke media lain. Jangan serakah. Jangan sampai mendua. Namanya rezeki, semua akan indah pada waktunya (tsaaaah….). Kode etik ini juga berlaku untuk pengiriman naskah ke penerbit dan PH.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s