Mendeteksi Lomba Menulis yang Tipu-tipu

Kalau kamu browsing, banyak sekali sayembara penulisan di luar sana. Kompetisi selalu bagus untuk menguji kualitas penulisan kita. Tapi, berita buruknya, nggak semua lomba itu beneran ada. Ada yang sekadar iseng, hoax, abal-abal, bahkan ada pula yang murni bermaksud meraup keuntungan dari penulis sepertimu, sejenis SMS Mama minta pulsa gitu deh.

Males banget kan kalau kamu udah capek-capek bikin naskah, dikirim, eh ternyata lomba dan panitianya fiktif (apalagi hadiahnya). Minimal rugi waktu dan tenagalah! Nah, daripada kejadian kayak gitu menimpamu, yuk perkaya wawasan tentang lomba-lomba penulisan yang nggak beres itu.

1. Periksa siapa penyelenggaranya

Apa kamu pernah dengar nama sang Penyelenggara sebelumnya? Apa dia pernah menyelenggarakan lomba-lomba sejenis sebelum ini? Gimana reputasinya? Browsing-lah! Hubungkan dengan jumlah hadiahnya. Kalau penyelenggara dan sponsornya nggak ada yang terkenal dan hadiahnya too good to be true, kamu wajib waspada.

Umumnya, perusahaan besar atau pemerintah nggak bakal mempertaruhkan reputasinya dengan aksi tipu-tipu. Tapi kamu juga kudu memeriksa, bener nggak sponsor-sponsor itu yang dipajang itu. Jangan-jangan, panitia yang nggak bertanggung jawab itu hanya mencatut nama mereka biar lomba fiktifnya terkesan tepercaya.

Cek juga reputasi situs penyelenggara. Bukan blog yang kebetulan men-sharing info itu lho ya. Lihat, situs resmi itu punya berapa PageRank, Alexa Rank, dan sudah berapa lama situs itu online di jagat maya. Kalau reputasi situsnya ecek-ecek (atau bahkan nggak ada situs resmiya), well, itu cukup mencurigakan di zaman internet ini. Meski, ada juga kemungkinan mereka memang baru memulai. Bagaimana cara mengecek reputasi sebuah situs? Baca di tulisan Kiat supaya Tidak Tertipu “Hantu”, khususnya poin #4.

2. Cek, apakah kamu dirugikan kalau mereka memang abal-abal?

Penipu selalu cari keuntungan dari korbannya. Maka, periksalah baik-baik aturan lomba itu. Apa dia minta uang pendaftaran (meskipun cuma 10 .000)? Kalau iya, itu alarm pertama. Jangan lihat entengnya biaya pendaftaran itu. Lihatlah kalau dia berhasil memperdaya 1.000 orang saja. Rp 10.000 x 1.000 orang = Rp 10 juta! Jangankan 10 juta, sejuta pun, kalau aku, nggak ikhlas menyedekahkannya ke penipu. Nggak tahu kalau kamu :p

Terus, apa panitia minta naskahya dikirim lewat email dan ada tulisan “semua naskah yang masuk menjadi milik panitia”? Itu alarm bahaya yang lain. Karena secara hukum, ketika kamu mengirim naskahmu, berarti kamu udah menyetujui aturan itu. Sehingga, ada pemenang atau nggak dalam lomba itu, karyamu tetap milik penyelenggara. Untung si penyelenggara dalam hal ini bukan uang, tapi dalam bentuk naskah yang bisa dia jual atau modifikasi tanpa perlu memberimu royalti. Bagi penulis, sependek apapun, naskah merupakan aset dan investasi. Kawal baik-baik!

3. Apakah social medianya sepi? Atau bahkan tidak punya?

Penerbit selalu ingin laku dan mendekati pembacanya. Mereka umumnya punya akun social media, minimal Facebook atau Twitter. Maka tengoklah, kalau follower-nya di bawah 100 padahal akunnya sudah ada sejak tiga bulan lebih, itu indikator bahwa ini penerbit/penyelenggara dadakan. Atau, status dan tweet-nya jarang-jarang. Normalnya penerbit/penyelenggara lomba profesional akan meng-update status setidaknya sekali tiap hari kerja. Kurang dari itu? Apalagi follower-nya cuma 80 orang? Mencurigakan!

Lho, kalau akun si penyelenggara memang baru atau dia nggak ngerti cara maintain social media, kan wajar kalau follower mereka sedikit? Oke, dalam kasus ini, coba kamu cek apa atau berapa hadiah yang ditawarkan? Kalau terlalu “wah” untuk ukuran penyelenggara yang kemarin sore, itu apa namanya kalau bukan mencurigakan? Penyelenggara baru, hadiahnya sudah jor-joran? Dan penyelenggara dengan total hadiah besar kok nggak punya banyak follower? There’s something wrong there!

4. Tulisannya sendiri kacau

Banyak typo atau kelihatan kalau nggak ngerti tata car penulisan. Contohnya, mereka menulis, “Naskah di terima paling lambat…” Atau, “Penyelenggara: Hell Phublising.” Periksa juga penulisan-penulisan di social medianya. Apa kacrut juga kata-katanya? Ini lomba penulisan lho. Kalau penulisan mereka sendiri kacrut, gimana kita bisa percaya?

That’s it! Gabungkan keempat langkah di atas untuk mendeteksi lomba menulis abal-abal. Satu atau dua langkah menemui hasil negatif, mungkin masih ada kemungkinan lomba itu jujur. Tapi kalau sudah tiga, bahkan empat-empatnya negatif, itu sudah pasti jebakan betmen! Jangan buang-buang waktu mengikuti lomba-lomba menulis semacam itu.

By the way, semakin tinggi jam terbangmu mengikuti lomba-lomba penulisan, semakin terasah instingmu. Jadi, begitu membaca sekali aja pengumuman sayembara menulis, kamu bisa menyimpulkan, “Wah, harus ikut nih!” Atau, “Ah, palsu!”

Oh ya, sebetulnya ada juga sayembara menulis yang udah hadiahnya kecil, ia juga mensyaratkan kamu untuk follow akun social media-nya, bahkan share informasi lomba itu kepada 10 temanmu di social media. Well, menurutku, lomba dengan syarat ribet gini hanya masuk kategori lomba yang “merugikan peserta dan ikuti saja kalau kamu lagi nganggur“. Tapi, rasanya ia bukan lomba menulis abal-abal.

Jangan sampai rancu ya.

Be a smart writer! Jangan biarkan penipu-penipu itu menertawakan kita, “Hahaha, gue dong… abis untung dari modus ‘lomba penulisan berhadiah heboh’. Nggak nyangka ya, para penulis itu lugu-lugu gitu. Hahaha….”

Iklan

One thought on “Mendeteksi Lomba Menulis yang Tipu-tipu

  1. Ping-balik: Naskah Iklan Radio: Lomba Film Pendek | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s