Awas, Jangan Asal dalam Menulis Adegan Pembuka

Setiap cerita pasti punya adegan pembuka. Nggak kayak di konser musik dimana band pembuka bisa dikesampingkan, adegan pembuka dalam novel atau film merupakan gerbang yang menentukan audiensmu bakal meneruskan atau berhenti menikmati karyamu. Jadi, ini sangat serius. Pastikan kamu sudah mendesain pintu gerbang itu sekeren dan semenarik mungkin!

Nggak ada aturan baku baku kok adegan pembuka yang baik itu kayak apa. Mau pakai deskripsi tempat, boleh. Dialog, silakan. Penggambaran karakter tokoh yang unik, nggak pa-pa. Narasi kejadian seru, bisa. Bebas aja! Asalkan adegan itu nggak bikin orang ngantuk. Asalkan adegan itu berpeluang membakar rasa ingin tahu audiensmu. Sehingga mereka terikat dalam dunia buatanmu.

Di Pemuja Oksigen, aku membuka novel dengan Rimba, tokoh utama, yang dirampok motornya di tengah jalan. Di Satin Merah, kami membuka cerita dengan adegan penemuan jenazah dua sastrawan Sunda dalam kondisi yang nggak wajar. Sementara untuk Rahasia Sunyi, aku membukanya dengan adegan Lautan yang gelagapan saat tiba-tiba bertemu mantan camernya.

Survei membuktikan, adegan pembuka yang to the point pada permasalahan utama biasanya lebih disukai, sebab audiens bisa langsung mengerti inti ceritanya. Baru setelah itu, alur kita kembalikan ke awal persoalan di bab atau scene berikutnya.

Yah, hampir sama kayak sistem piramida terbalik dalam jurnalisme gitu lah. Bagian yang penting disampaikan duluan. Juga sama seperti kalau kita lagi bicara dengan orang lain. Kecuali kalau orang itu memang sangat butuh mendengar ceritamu, biasanya kan kamu langsung menyampaikan sesuatu yang penting. Karena kalau orang yang kamu ajak bicara nggak langsung menangkap inti pembicaraan, dia bisa pergi dan menganggap buang-buang waktu untuk mendengarkanmu. Sederhana, bukan?

Adegan pembuka memang bukan inti dari karyamu. Meskipun begitu, jangan pernah meremehkannya. Sudah bukan hal yang aneh bila seorang penulis bisa menghabiskan seminggu penuh cuma untuk membuat sebuah adegan awal yang menggigit. Mereka meyakini sebagaimana permainan catur, langkah-langkah awal memang terlihat sederhana dan remeh. Tapi dari situ, bisa terbaca, kita akan menang atau kalah dalam permainan catur itu.

Maka dari itu, yuk kita baca ulang adegan pembuka kita. Jangan gengsi untuk meminta pendapat teman-teman. Kalau memang kurang menggigit, ayo diedit dulu. Jangan keburu dikirim ya 🙂

Iklan

One thought on “Awas, Jangan Asal dalam Menulis Adegan Pembuka

  1. Ping-balik: Selfediting Checklist | WARUNG FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s