Membangun Karakter melalui Pembicaraan Tokoh-tokoh Lain

Sebetulnya, mau aku ganti kata “pembicaraan” itu dengan “gunjingan” atau “rasan-rasan“. Tapi dua kata itu berkesan negatif. Padahal “pembicaraan” yang kumaksud bisa saja positif. Aku ambil contoh novelku sendiri saja, Rahasia Sunyi (GagasMedia, 2013). Di sana, ada tokoh yang hendak kubangun melalui pembicaraan tokoh-tokoh yang positif.

Kalau kamu sudah baca, pasti tahu tokoh Kirey Fowler. Banyak lho pembaca yang bilang, meski sepanjang novel tokoh ini tak pernah hadir (gimana mau hadir, dia kan diceritakan sudah meninggal), tapi tetap terasa akrab dengan pembaca. Kok bisa?

Ya itu tadi, aku buat tokoh-tokoh lain membicarakannya di sepanjang alur. Sebenarnya, ini trik lama. Tapi rasanya takkan lekang oleh zaman. Terkadang, efek trik ini bahkan lebih menancap di benak pembaca ketimbang ketika kamu mendeskripsikan tokoh Kirey secara biasa (narasi/deskripsi). Bukankah info yang diperoleh dari mencuri dengar dan menyimpulkan sendiri biasanya lebih mudah diingat dari informasi yang secara sengaja diberikan?

Coba, mana yang akan lebih kamu ingat: (1) Guru sejarahmu menerangkan siapa Abraham Lincoln itu, atau (2) Kamu nonton sendiri Abraham Lincoln: Vampire Hunter. Terlepas dari kebenaran fakta yang disampaikan, kamu pasti lebih memahami siapa Abraham Lincoln jika melihat filmnya. Soalnya, film pasti berisi dialog-dialog yang teratur dan terarah. Itu akan melekat di otakmu!

Sementara guru sejarahmu menerangkan Abraham Lincoln seperti narasi/deskripsi novel. Cenderung linier dan konvensional. Mungkin kamu segera melupakannya, kecuali kalau kamu buru-buru mempelajarinya ulang di rumah.

Terapkan trik mengakali otak (pembaca) ini saat sedang menulis cerita. Tatalah dialog tokoh-tokoh lain tentang tokoh yang ingin kamu bangun. Yah, sederhana saja. Untuk menginspirasimu, berikut sekadar beberapa contoh dalam novel Rahasia Sunyi:

  • Randy kaget dengan pertanyaan Tiara. “Rey-Rey? Pertambangan emas? Rey-Rey dan emas itu seperti ikan dan air.”
  • “Rey-Rey selalu bilang, Kerinci itu rumah keduanya. Bahkan bukan sekadar rumah, dia ingin membangun istana di sana. Yah, kamu tahu kan, mimpi-mimpi remaja seusiamu memang kadang berlebihan seperti itu,” terang Tante Lusi.
  • Lautan tertawa, “Ya, setuju, Om! Kirey tuh selalu hangat ke semua orang. Seolah-olah punya matahari sendiri.”

Gampang kan? Ya, siapa bilang sulit!

Membuat tokoh-tokoh lain membicarakan tokoh tertentu itu memang gampang. Yang sulit adalah menempatkan dialog-dialog itu agar terlihat wajar. Selamat mencoba! Lalu rasakan sendiri betapa tokohmu akan lebih hidup dan “bernyawa”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s