Pede Aja, Lagi!

Mereka selalu dihantui pikiran yang nggak-nggak. Tulisannya buruk lah, nggak layak lah, terlalu sederhana lah, jadi masa… lah! Hehehe. Padahal, sudah banyak pemula yang berhasil mempublikasikan karya perdananya. Beberapa di antaranya malah best seller. Ambillah Laskar Pelangi sebagai salah satu contoh.

Coba pikir, kalau kita nggak pede, kapan bisa mengirim naskah ke media, penerbit atau PH? Maka sudahlah, lenyapkan kekhawatiran-kekhawatiran yang nggak logis itu. Berikut ini kiat menjadi pede dengan karya kita:

  1. Pastikan kamu sudah mengeluarkan kemampuan terbaikmu. Bagaimana bisa pede kalau karya itu kamu tulis dengan iseng-iseng saja?
  2. Menulislah yang baik-baik saja, jangan tulisan kontroversial atau pornografi. Luruskan niat memberi pembaca/penonton hiburan yang mengandung manfaat positif. Sehingga saat naskahmu ditolak, kamu akan merasa, “Ya sudah, merekalah yang rugi, bukan aku.”
  3. Camkan, nggak ada yang patut ditakuti dari sebuah penolakan. Kecewa? Pastilah. Tapi kamu nggak rugi sama sekali. Periksa badanmu dari atas ke bawah, masih utuh kan? Malu? Nggak juga. Kan kamu nggak kelihatan wajahnya, hehehe.
  4. Begitu kamu sudah menyerahkan naskahmu pada media, penerbit atau PH, jangan ditunggui, brosist! “Monyet” itu sudah berpindah tangan. Kamu nggak perlu memikirkannya lagi! Segera cari aktivitas lain. Atau tulislah karya-karya hebat yang lain.
  5. Tapi jangan lupa, berharaplah yang terbaik dan berdoalah. Karya hebat sekalipun kalau apes ya nggak akan ada yang tertarik membacanya. Nah, berdoa adalah upaya untuk mendongkrak keberuntunganmu, believe it or not.

Sudah. Lima itu saja tipsnya. Sekali lagi, jangan takut ditolak. Tahukah kamu, Twelve Golden Threads karya Aliske Webb ditolak oleh 150 penerbit sebelum akhirnya diputuskan self publish dan menembus penjualan setidaknya 25 ribu eksemplar, lalu teken kontrak empat judul sekaligus dengan penerbit gede HarperCollins.

Perhatikan juga riwayat Dan Brown, J.K. Rowling, Stephen King, Hemingway, John Grisham, dll. Orang-orang sehebat mereka saja masih harus menerima penolakan, sebagian bahkan sampai puluhan kali. Masa kita ditolak lima kali saja sudah mutung? Jangan cemen gitu dong. Pede aja, lagi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s