Pentingnya First Reader dalam Memoles Karyamu

Dokter nggak bisa menyembuhkan diri sendiri saat sakit parah. Demikian pula penulis. Sering kali kita nggak bisa menilai tulisan kita secara obyektif. Itulah kenapa, kita perlu first readers atau pembaca awal dari naskah (selain kamu sendiri sebagai penulis). Mereka nggak harus penulis juga, nggak harus editor. Mereka justru harus orang awam (yang suka membaca) yang penilaiannya bisa obyektif. Tiap novelku selalu melibatkan setidaknya tiga first readers.

And it worth! Banyak masukan berharga yang aku dapat. Sebelum novel-novel itu meluncur ke publik.

Jadi, mintalah first reader-mu kritik dan masukan (bukan pujian lho) sedetail mungkin. Lalu berbesarhatilah untuk menerimanya. Entah kamu mau merevisi naskah berdasarkan masukan mereka atau tidak, terserah. Saranku, pertimbangkan baik-baik komentar mereka, karena merekalah miniatur dari konsumen tulisanmu. Lagipula, kalau kamu sejak awal nggak ingin mendengar komentar pedas mereka, kenapa kamu jadikan mereka first readers?

Mendingan mandi peluh pas latihan, ketimbang mandi darah saat pertandingan. Itulah yang sering dikatakan simpei karate saya dulu. Rasanya slogan tersebut dapat juga diterapkan di bidang apa pun, termasuk karya. Lebih baik naskah dicaci habis-habisan oleh teman sendiri, daripada dianggap produk sampah oleh masyarakat konsumen setelah dipasarkan.

Iklan

One thought on “Pentingnya First Reader dalam Memoles Karyamu

  1. Ping-balik: Tips Dasar Membuat Infografik | Warung Fiksi ®

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s