Setangkup Problematika Sastra Anak Indonesia

Secara umum bacaan anak-anak sekarang pasti tak lepas dari komik. Tak bisa dielakkan, daftar buku terlaris anak pada jaringan toko buku terkemuka menunjukkan golongan buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon selalu menjadi pilihan untuk dibeli. Selain buku komik Jepang tersebut, seri terjemahan dari Walt Disney-lah yang sering kali tampak di pasaran. Merebaklah tuduhan bahwa bacan-bacaan tersebut telah memelintir anak-anak bangsa hingga hanya memiliki segelintir nilai-nilai universal yang canggung dan kehilangan akar budayanya. Benarkah? Lalu di mana ya buku bacaan anak karya pengarang dalam negeri?

Lanjutan cerita ini bisa dibaca di sini ….

Iklan

15 thoughts on “Setangkup Problematika Sastra Anak Indonesia

  1. Dari kecil sy suka baca terutama dongeng atau cerpen. Sy tau dongeng & cerita2 lainnya dr majalah Si Kuncung, Bobo, lalu tabloid Fantasi. Klo baca majalah/tabloid anak2, yg pertama dibaca pasti dongengnya dulu 🙂 Skrg Si Kuncung entah kmn, Fantasi malah jd tabloid remaja, cm Bobo yg masih ada. Salute utk orang2/kelompok yg membuat/menerbitkan buku dongeng/cerita rakyat. Semangat!!!

  2. Yap, seperti nostalgia saja, saya sendiri biasa terkenang dengan dongeng-dongeg ibu sebelum tidur 🙂 Saat SD, di sekolah saya biasa membaca buku-buku Inpres yang berisi cerita rakyat dan cerita petualangan anak-anak yang settingnya di berbagai wilayah nusantara. Kalau majalah anak-anak jarang baca, soalnya tidak berlangganan. Ada momen tertentu di waktu saat saya kecil banyak sekali membaca majalah anak-anak. Orang tua saya pedagang, jadi kadang ada tetangga yang menjual tumpukan koran dan majalah, dan di antaranya ada juga setumpuk majalah anak-anak, saya lahap semuanya, hahaha …

    Trims ya Ree buat komentarnya.

  3. Iya ya. Prihatin. Sebelum mulai sekolah, saya sering dibacakan cerpen/dongeng dari majalah Bobo oleh ibu, teman ibu, atau pembantu keluarga kami. Kebetulan waktu SD (di Bandung) ada perpustakaan kecil di sudut kelas, tapi buku-bukunya kurang menarik. Kalau nggak buku pelajaran, pasti cerita anak-anak yang telah disusupi propaganda orde baru (hehehe, mungkin cuma prasangka saya saja). Waktu SMP (di Magelang) malah mendingan, setiap istirahat biasanya perpustakaannya penuh. Buku-bukunya juga lumayan up to date. Dan gurunya memang mengarahkan siswa untuk membaca. Pas SMA (di Bandung) perpustakaannya gelap dan ketinggalan jaman. Alhasil jarang ada pengunjungnya.

  4. Wah jadi saling bagi-bagi pengalaman masa lalu nih, tapi bagus juga, kita jadi tahu sisi universal orang tua-orang tua kita, yaitu mendongeng (story telling). Tradisi ini kini mulai banyak ditinggalkan karena banyak hal, misalnya kesibukkan orang tua, atau karena orang tua kurang menyadari bahwa menanamkan nilai-nilai melalui mendongeng akan jauh lebih mudah diterima dan jauh lebih menarik, bukan saklek dengan larangan-larangan yang malah membuat kreativitas anak mandeg.

    Satu lagi, dari komentar-komentar ini, kita jadi tahu bahwa bacaan di sekolah-sekolah Indonesia memang kurang dan sangat tidak memadai keragamannya. Trim buat Andika.

  5. yap, memang dongeng itu sangat berperan dalam pendidikan anak. Maka dari itu saya menyarankan dari masing-masing calon ortu untuk sering-seringlah mendongeng kepada anak mulai dari umur 1 tahun. Dan mendongenglah sesuai dengan sesuai dengan IQ anak/sesuai dengan daya tangkap anak.

    Saya hanya ingin berbagi pengalaman setelah saya mendapatkan mata kuliah literatur anak kepada masing-masing pembaca yang ingin menjadikan anaknya gemar akan membaca. Yach, dari mendongenglah maka anak akan ketagihan dengan cerita-cerita. Lama-kelamaan ketika anak sudah mulai bisa membaca anak akan mau membaca sendiri.

    Semangat yach…!!!

  6. Trim ya Nana, wah wah semangat sekali. Kerangka nalarnya memang seperti yang Nana bilang, namun yang paling efektif adalah mendongeng dengan menggunakan perangkat mendongeng, khususnya buku cerita, terutama buku-buku cerita dengan gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Jadi ketika mendongeng, kita sekaligus mengenalkan “buku” pada anak, hal ini adalah cara paling efektif untuk menarik minat anak pada buku, bahwa ada dunia yang mengasyikkan yang dapat dipetik dari sebuah buku.

  7. sampai sekarang saya masih menyukai bacaan (sastra ataupun bukan) anak-anak. Dalam hati saya berniat mencari beberapa ilustrator bekas mahasiswa saya untuk membuat cerita rakyat versi cergam (komik). Tipis-tipis saja. Mudah2an setelah saya menyelesaikan studi ttg komik bisa mendapat jalan untuk merealisasikan niat tsb. Cergam Folklor Nusantara. =)
    kalau2 ada yg berniat membuat cerita komik folklore ini bolehlah saling berbagi semangat dan kelak bisa kerjasama bikin bareng. =p

  8. Wah, semangat yang patut diacungi jempol, plus tawaran yang sangat menarik bagi penulis-penulis untuk ikut ambil bagian. Warung Fiksi akan dengan senang hati mengupayakan keberlanjutan bentuk kerjasama yang nantinya bisa kita kerjakan bersama.

    Semoga terwujud “Cergam Folklore Nusantara”.

  9. iya nie… turut prihatin ama kondisi satra anak saat ini di indonesia. kebetulan aku lagi ambil matkul literatur anak di jurusan perpustakaan jadi salah satu tugasnya ya presentasi story telling n bikin book talk untuk anak-anak… jadi nanti kalo anak2 mau denger story telling or baca book talk.. ke perpustakaan aja..
    semangat…

  10. q turut berduka cita nie… sastra anak lokal emang kurang diperhatiin. klo qt mw nyoba polling pertnyaan ma anak2 kcil t2g crita ank2 mereka psti dgn cepat ngejawab “naruto, sinchan. tsubasa n dll” berani taruhan mereka gak mngkin ngejawab SI kANCIL, Timun maS Ato dll. karya lokal kurang populer d rmh sendiri. kacian…!!

  11. sastra anak menjadi modal bangsa untuk menyiangi bibit-bibit budaya yang selama ini kurang di perhatikan. walaupun sastra anak dewasa ini cukup termarjinalkan, alangkah terpujinya jika sastrawan besar juga menuangkan cerita-cerita anak yang bermanfaat bagi bangsa. semoga semuanya tercapai…

  12. Aku pengen banget nulis cerita buat anak-anak. Buku kayak gitu masih jarang kan? Bagus deh, nggak banyak saingan. Tapi ceritanya tentang apa ya? Pengen bikin cerita kayak ‘Le petit prince’ euy!

Komentar ditutup.