Menyaran Bacaan Wajib Sastra Indonesia

Melihat buku-buku di rak, katakanlah toko buku atau perpustakaan, kadang kita jadi pusing dengan begitu banyak jibunan buku. Semua terasa lebih menarik dari yang lain. Akibatnya, justru mood kita untuk membaca atau membeli jadi surut.

Lanjutan cerita ini bisa dibaca di sini ….

Iklan

22 thoughts on “Menyaran Bacaan Wajib Sastra Indonesia

  1. Terlalu berat? Kan belum baca satu pun, jadi kok bisa berpendapat begitu Fey? Coba deh baca salah satu dulu. Tidak semua kok karya-karya di atas berlabel “berat” seperti dugaanmu. Karya-karya Pramudya, Ahmad Tohari, dan Gus Tf memiliki gaya cerita yang runtut dan enak dibaca. Mungkin hanya sajiannya yang berbeda. Menambah ragam bacaan = menambah wawasan. Tapi thanks atas komentarnya.

  2. Saya suka baca. Tapi buku2 yang saya baca nggak termasuk dalam list di atas. Yang sudah saya baca hanya Belenggu dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijk. Pengen sih baca buku2nya Pramoedya. Tapi harganya kok mahal ya? Terus habis dibaca, pengen banget dibikin diskusi. Biar jadi pembaca aktif.

  3. karya – karya anak bangsa memang sangat bagus. karya karya mereka sangat sarat makna….. tapi sayangnya generasi muda sekarang kurang menyukai karya – karya yang seperti itu, mereka beranggapan bahwa karya-karya tu sudah kuno,padahal makna yang terkandung didalam karya tersebut sangatlah besar dan bermamfaat bagi siapa saja yang membacanya,saya sudah pernah membaca sebagian dari buku- buku diatas,tapi kenapavovel harimau! harimau!tidak dimasukkan kedalam daftar diatas. padahal novel tu mempunyai nilai sastra yang tinggi….

  4. Thanks buat Rie yanti, bagus lho konsepnya, memang setelah membaca buku kita perlu juga mendiskusikannya, tentu untuk menguatkan alasan kita tentang sisi-sisi menarik bacaan kita, mengapa? Karena tiap orang punya kadar penerimaan sendiri-sendiri, katakanlah resepsi pembaca beda-beda. Apa yang menyebabkan berbeda tentu saja latar belakang pengalaman hidup
    yang berbeda, jadi dengan diskusi kita jadi tahu apa beda penekanan sisi menarik dari lawan diskusi dan hubungannya dengan pengalaman hidupnya. Soal buku yang mahal yah memang mahal, kan tergantung harga kertas dan dolar, hehe… Tapi kita bisa lari ke perpus kok, atau kita bisa saling pinjam buku sama teman-teman.

    Makasih Vhea tentang usulannya, intinya kita jangan membatasi bacaan pada satu ragam bacaan, hal itu hanya akan mempersempit cakrawala berpikir kita. Karakter novel atau karya yang bagus dapat kita lihat dari aspek tema yang tak lekang oleh waktu. Karya yang berangkat dari tren biasanya juga akan cepat basi, karena tren terus berubah, beda sama karya yang berangkat dari penggalian ide. Orang yang beranggapan bahwa novel dalam daftar tersebut kuno mungkin membaca sisi kebahasaannya saja, bukan dari isinya, sayang sekali bukan? Padahal banyak muatan pikiran-pikiran yang menarik dari tiap novel atau cerpen yang mencerminkan keragaman realitas kehidupan. Dengan banyak membaca kita juga belajar ragam kehidupan.

  5. wah…!bagus sekali karya novelnya lom pernah gw baca selama ini,memang sih novel itu salah satu dari karya sastra yang memang diakui dunia dan belum satupun yang terlewatkan.

  6. Aduh, maksud Vanriz novel yang mana? Memang novel-novel yang terdapat dalam daftar bagus-bagus dan telah diakui keunggulannya dalam khasanah sastra Indonesia. Memang tidak semuanya karya sastra kontemporer, beberapa merupakan karya sastrawan kita di masa lalu. Tapi semua tetap penting untuk dibaca, sehingga pengetahuan kita tentang sastra Indonesia menjadi lengkap. Kita bisa mengamati perkembangan tema dan segi-segi lain dalam karya sastra Indonesia yang tentu saja cerminan pemikiran pengarang pada masanya. Jadi jangan ragu untuk membaca.

  7. Memang kelemahan kita terutama guru bahasa dan sastra Indonesia adalah belum banyak membaca atau menguasai karya sastra. Jika sebagian besar kita sudah mampu membaca karya sastra di atas kita akan lebih mudah untuk menuangkan hasil ulasan karena wawasan kita tentang karya sastra cukup memadai. Persoalan inilah yang dihadapi sebagaian besar guru bahasa indonesia. Mari kita mulai untuk membaca karya-karya sastra bermutu.

  8. Terima kasih Mas Basri untuk apresiasinya. Memang diakui atau tidak, pembelajaran sastra di sekolah-sekolah kurang mendapat porsi maksimal. Hal ini terutama dipicu oleh minat para guru Bahasa Indonesia sendiri yang kurang dalam mengapresiasi karya sastra. Jika guru Bahasa Indonesianya belum membaca karya sastra, saya rasa mustahil bisa menularkan kenikmatan dalam membaca karya sastra pada murid-murid.

    Jadi bapak dan Ibu guru, mulailah membaca karya sastra. Jadilah virus menular yang mampu menginfeksi siswa untuk gemar membaca.

  9. Nana ingin memiliki CD & novel tenggelamnya kapal van der wijk tapi dimana Nana bisa mendapatkan CD & novel itu karna Nana ingin menghadiahkan untuk Mama

  10. yang sudah saya baca cuma bukunya Ahmad tohari dan Budi Darma, itu pun waktu SMA dulu.
    makasih daftar kumcernya, saya jadi pengin baca!

  11. saya sedang melacak novel Tuyet karya Bur Rasuanto . Dulu pernah punya dan sudah baca tetapi sekarang entah di mana rimbanya? Jika ada pembaca yang berkenan untuk mencarikan. Saya tinggal di Bontang, gaka ada toko buku sebesar Gramedia di jakarta.

  12. keajaiban di pasar senen lucu kali… dapat menggelitik kulit kepala yang memang jarang keramas…

  13. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  14. HUzzz asyik bgt x sastra itu, gak sesulit yang kita bayangkan, ni aku aja gi ngerjain about OLENKA,, MET COBA YUA YANG BELUM BERMINAT……MAKNYUZZZZZ………. 😉

Komentar ditutup.